Covesia.co.id – Berbicara mengenai perpustakaan, satu hal yang terbesit di pikiran adalah buku.
Perpustakaan merupakan tempat yang luar biasa. Tidak hanya menjadi tempat untuk meminjam dan membaca buku, perpustakaan juga menjadi ruang untuk melihat dunia.
Keberadaan perpustakaan di suatu daerah sangat penting karena berfungsi sebagai pusat ilmu pengetahuan, mendukung pembelajaran, dan meningkatkan literasi masyarakat.
Sumatera Barat juga menyediakan gudang ilmu bagi masyarakatnya, salah satunya melalui Perpustakaan Umum Daerah Provinsi Sumatera Barat (Perpusda) yang berlokasi di Jalan Adinegoro, dekat kawasan Taman Melati, Kota Padang.
Dahulu, mungkin sebagian masyarakat hanya mengetahui bahwa kegiatan yang dapat dilakukan di perpustakaan hanyalah membaca dan meminjam buku. Namun, saat ini perpustakaan telah menjelma menjadi ruang bagi masyarakat untuk berkegiatan.
Bagi yang belum mengetahui, di Perpusda saat ini setiap Senin hingga Jumat terdapat program Transformasi Perpustakaan Berbasis Inklusi Sosial (TPBIS). Program ini merupakan pendekatan pelayanan perpustakaan sebagai pusat pemberdayaan masyarakat. Melalui program tersebut, masyarakat dapat mengikuti pelatihan keterampilan serta memperoleh akses informasi untuk meningkatkan kesejahteraan, mengentaskan kemiskinan, dan memberdayakan ekonomi kreatif.
“Perpusda Sumatera Barat sudah melaksanakan program TPBIS sejak 2018, tetapi baru semarak di kalangan masyarakat dalam dua tahun belakangan ini,” ungkap Rozy selaku Ketua Tim Layanan Perpusda kepada Covesia, Senin (13/7/2026).
Program ini dilaksanakan tanpa memungut biaya apa pun bagi masyarakat yang ingin mengikuti setiap kelasnya. Pada Juli ini juga telah tersedia jadwal kelas yang dapat dilihat melalui Instagram @pustakaarsipsumbar.
Kelas yang tersedia antara lain merajut, menjahit, membuat buket bunga, kepustakawanan, bahasa Inggris, bahasa Jepang, kelas adat, pemasaran daring (online marketing), dan masih banyak lagi. Antusiasme masyarakat terlihat sangat tinggi. Bahkan, kelas public speaking pernah diminati hingga 150 peserta.
Keterbatasan efisiensi anggaran memang sempat membuat beberapa kegiatan mengalami kendala. Namun, orang-orang baik selalu hadir ketika niat baik diwujudkan. Para pemateri yang mengisi kelas di Perpusda secara sukarela berbagi ilmu dengan harapan dapat memberikan manfaat bagi sesama.
Kelas menjahit yang berlangsung hari ini memperlihatkan para peserta, khususnya ibu-ibu, yang dengan penuh fokus mempelajari setiap tahapannya. Tidak hanya menjadi tempat belajar, pelaksanaan kelas ini juga menjadi jembatan untuk bersosialisasi bagi mereka yang mungkin merasa jenuh dengan rutinitas sehari-hari. Kegiatan ini bahkan berpotensi menjadi sumber penghasilan. Perpusda juga menyediakan ruang bagi peserta untuk mempromosikan hasil karya yang mereka buat.
“Perpustakaan saat ini telah berkembang menjadi ruang untuk berkegiatan bagi masyarakat dari berbagai usia, tidak hanya untuk membaca dan meminjam buku. Terdapat banyak kegiatan bermanfaat yang bisa dilakukan di Perpusda, mulai dari mengikuti berbagai kelas, membaca koleksi buku, hingga menikmati waktu dengan tenang. Jadi, manfaatkanlah fasilitas yang telah disediakan dengan sebaik mungkin,” pesan dan harapan yang disampaikan Ibu Rozy, S.IP., kepada Covesia.
Stigma bahwa perpustakaan hanya diperuntukkan bagi pelajar kini telah terbantahkan. Perpustakaan telah bertransformasi menjadi ruang publik yang inklusif dan terbuka bagi semua kalangan. Mari kunjungi gudang ilmu kita!
(Ariel)











