Covesia.co.id – Semifinal Piala Dunia 2026 akan menghadirkan salah satu laga paling bergengsi dalam sejarah sepak bola dunia.
Timnas Argentina dijadwalkan menghadapi Inggris dalam duel perebutan tiket ke partai final yang diprediksi berlangsung sengit dan penuh gengsi.
Pertandingan ini bukan sekadar perebutan satu tempat di final, tetapi juga menjadi babak baru rivalitas panjang dua negara yang telah berkali-kali bertemu di panggung dunia. Termasuk pembuktian ketangguhan raksasa dari dua benua.
Argentina akan membawa gengsi dari benua Amerika, sedangkan Inggris akan membuktikan marwah benua Eropa dalam sepakbola dunia.
Kedua tim datang ke semifinal dengan modal yang sama kuat. Argentina tampil konsisten sejak fase grup hingga babak gugur.
Juara bertahan itu sukses melewati hadangan Cape Verde pada babak 32 besar, menyingkirkan Mesir di babak 16 besar, sebelum mengalahkan Swiss 3-1 di perempat final.
Di sisi lain, Inggris menunjukkan perkembangan signifikan di bawah asuhan Thomas Tuchel.
The Three Lions mengawali fase gugur dengan menyingkirkan Republik Demokratik Kongo, kemudian mengalahkan Meksiko dalam pertandingan ketat, dan memastikan tiket semifinal setelah menundukkan Norwegia 2-1 di babak perempat final.
Secara taktik, Argentina diperkirakan tetap mengandalkan filosofi permainan khas mereka, yakni penguasaan bola, umpan-umpan pendek, serta membangun serangan secara sabar dari lini tengah.
Lionel Scaloni diprediksi tetap menggunakan formasi 4-3-3 yang memberi kebebasan kepada Lionel Messi bergerak di belakang penyerang utama Julián Álvarez. Peran Rodrigo De Paul, Enzo Fernández, dan Alexis Mac Allister akan menjadi kunci dalam mengatur tempo sekaligus menjaga keseimbangan permainan.
Sebaliknya, Inggris diprediksi tampil lebih agresif dengan formasi 4-2-3-1. Thomas Tuchel kemungkinan menerapkan pressing tinggi sejak awal pertandingan untuk menekan Argentina agar tidak leluasa mengembangkan permainan.
Declan Rice akan menjadi jangkar di lini tengah, sementara Jude Bellingham bertugas menghubungkan lini tengah dengan lini depan yang dihuni Harry Kane.
Kecepatan Bukayo Saka dan Phil Foden di kedua sisi lapangan diperkirakan menjadi senjata utama untuk membongkar pertahanan Argentina.
Pertandingan diprediksi menghadirkan duel menarik antara dua gaya bermain berbeda.
Argentina lebih mengutamakan penguasaan bola dan kreativitas dalam membangun serangan, sedangkan Inggris mengandalkan intensitas tinggi, transisi cepat, serta kekuatan fisik dalam setiap duel.
Sorotan utama tentu akan mengarah kepada Lionel Messi. Kapten Argentina itu masih menjadi pusat permainan La Albiceleste berkat visi bermain, kemampuan menggiring bola, umpan terobosan, dan penyelesaian akhir yang tetap tajam.
Di lini depan, Julián Álvarez diperkirakan menjadi ujung tombak yang bertugas memanfaatkan setiap peluang hasil kreasi Messi.
Sementara itu, Inggris mengandalkan Harry Kane sebagai target man sekaligus pencetak gol utama. Ketajaman penyerang Bayern Muenchen tersebut didukung kreativitas Jude Bellingham yang memiliki kemampuan membawa bola, menciptakan peluang, hingga membantu pertahanan.
Di sektor sayap, Bukayo Saka dan Phil Foden siap memberikan ancaman melalui kecepatan serta kemampuan menusuk ke kotak penalti.
Berdasarkan performa sepanjang turnamen, kedua tim memiliki kekuatan yang relatif seimbang. Argentina unggul dalam pengalaman dan ketenangan menguasai pertandingan, sedangkan Inggris memiliki kelebihan dalam kecepatan transisi dan efektivitas serangan balik.
Jika tidak ada perubahan, Argentina diperkirakan menurunkan Emiliano Martínez; Nahuel Molina, Cristian Romero, Lisandro Martínez, Nicolás Tagliafico; Rodrigo De Paul, Enzo Fernández, Alexis Mac Allister; Lionel Messi, Julián Álvarez, dan Thiago Almada.
Adapun Inggris kemungkinan memainkan Jordan Pickford; Kyle Walker, John Stones, Marc Guéhi, Luke Shaw; Declan Rice, Kobbie Mainoo; Bukayo Saka, Jude Bellingham, Phil Foden; serta Harry Kane sebagai ujung tombak.
Pertemuan Argentina dan Inggris selalu menyimpan cerita besar dalam sejarah sepak bola.
Di ajang Piala Dunia, kedua tim pernah bertemu lima kali. Inggris menang 3-1 pada 1962, kemudian menang 1-0 pada perempat final 1966.
Argentina membalas dengan kemenangan ikonik 2-1 pada perempat final 1986 melalui gol “Tangan Tuhan” dan gol solo spektakuler Diego Maradona.
Pada Piala Dunia 1998 kedua tim bermain imbang 2-2 sebelum Argentina menang melalui adu penalti, sedangkan pertemuan terakhir di Piala Dunia 2002 dimenangkan Inggris dengan skor 1-0 lewat penalti David Beckham.
Melihat kualitas pemain, kedalaman skuad, serta performa sepanjang turnamen, laga diprediksi berlangsung ketat hingga menit-menit akhir.
Duel lini tengah antara Enzo Fernández, Mac Allister, dan De Paul melawan Declan Rice serta Jude Bellingham diyakini menjadi penentu jalannya pertandingan. (*)











