Menu

Dark Mode
Dari Pakem Tradisi ke Tren Kekinian: Evolusi Estetika Busana Pengantin Minangkabau Jogging Jadi Mood Booster Sekaligus Lifestyle Kece Vespa: Dari ‘Kerangka’ Pesawat Tempur Menjadi Ikon Klasik Abadi Bukan Dapat Restu Malah Dapat Malu, Terduga Maling Ini Diciduk di Rumah Pacarnya Urai Antrean Panjang di SPBU, Gubernur Sumbar Bentuk Satgas Pengawasan BBM Subsidi Ditangkap di Jakarta, Anggota DPRD Sumbar Beny Saswin Dibawa ke Kejati Sumbar

Life Style

Alarm Waspada di Balik Genangan: Saat Musim Hujan Sumbar Tak Hanya Membawa Air, tapi Juga Ancaman DBD

badge-check


Ilustrasi (Istimewa) Perbesar

Ilustrasi (Istimewa)

Covesia.co.id – Bagi sebagian orang, aroma tanah basah setelah diguyur hujan adalah ketenangan. Namun di balik sejuknya udara dan rintik yang turun belakangan ini, ada ancaman sunyi yang sedang mengintai kesehatan keluarga kita. Ya, musim hujan selalu identik dengan genangan air, dan di mana ada genangan yang tenang, di sanalah “pabrik” nyamuk dimulai. Sayangnya, kehadiran mereka kali ini bukan membawa kemaslahatan, melainkan membawa risiko fatal: Demam Berdarah Dengue (DBD).

Dikutip dari alodokter.com, DBD bukan sekadar demam biasa. Ini adalah infeksi virus yang ditularkan lewat gigitan nyamuk dengan gejala yang menguras fisik—mulai dari demam tinggi mendadak, sakit kepala hebat, nyeri otot dan tulang, hingga rasa sakit di belakang mata dan munculnya bintik kemerahan. Jika terlambat ditangani atau dianggap sepele, penyakit ini bertaruh nyawa.

Kekhawatiran ini bukan tanpa alasan, terutama bagi masyarakat Sumatera Barat. Pasca-bencana banjir yang melanda beberapa waktu lalu, Sumbar mencatat angka mengejutkan dan menjadi provinsi dengan kasus DBD terbesar di antara tiga provinsi yang terdampak bencana.

Data pada periode 25–29 November 2025 menunjukkan ada 376 kasus demam yang tersebar di lima kabupaten rawan, yaitu Pasaman, Pasaman Barat, Agam, Pesisir Selatan, Tanah Datar.

Kota Padang sendiri menempati posisi teratas sebagai wilayah dengan grafik kasus tertinggi setiap kali musim hujan datang. Kondisi lingkungan pascabencana yang menyisakan banyak genangan diduga menjadi pemicu utama melonjaknya populasi nyamuk penyebar virus ini.

Banyak yang keliru mengira nyamuk Aedes aegypti atau Aedes albopictus menyukai tempat yang kotor. Faktanya, virus Dengue justru ditularkan oleh nyamuk yang gemar berkembang biak di air yang menggenang tenang dan dasarnya bersih.

Tumpukan sampah plastik yang menampung air hujan, ban mobil bekas di samping rumah, hingga wadah air minum hewan peliharaan yang jarang dikuras adalah hotel bintang lima bagi mereka. Anda juga harus ekstra waspada pada pagi dan sore hari, karena di waktu-waktu itulah nyamuk ini paling aktif bergerak dan mengincar korbannya.

Hingga hari ini, belum ada obat ajaib atau khusus yang diciptakan untuk langsung membunuh virus Dengue di dalam tubuh. Oleh karena itu, satu-satunya cara paling ampuh adalah memutus rantai hidup si nyamuk sebelum mereka sempat terbang.

Mengingat musim hujan kembali menyapa, langkah paling mendesak yang bisa kita lakukan adalah menerapkan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) melalui gerakan sederhana namun konsisten:

Kuras: Bersihkan bak mandi dan penampungan air secara rutin.

Tutup: Jangan biarkan wadah air terbuka bebas.

Daur Ulang: Kubur atau manfaatkan kembali barang bekas yang berpotensi menampung air hujan.

Proteksi diri: Selalu siapkan losion antinyamuk untuk keluarga, terutama saat anak-anak beraktivitas di pagi dan sore hari.

Mencegah selalu jauh lebih baik (dan murah) daripada mengobati. Yuk, mulai periksa halaman rumah hari ini sebelum nyamuk-nyamuk itu bersarang di dekat kita!.

(*)

Facebook Comments Box

Kabar lainnya

Dari Pakem Tradisi ke Tren Kekinian: Evolusi Estetika Busana Pengantin Minangkabau

19 June 2026 - 10:04 WIB

Jogging Jadi Mood Booster Sekaligus Lifestyle Kece

19 June 2026 - 09:54 WIB

Vespa: Dari ‘Kerangka’ Pesawat Tempur Menjadi Ikon Klasik Abadi

19 June 2026 - 09:47 WIB

Kasta Busana: Dari Piramida Kaku Menjadi Ajang Pamer di Jalanan

18 June 2026 - 13:32 WIB

Solidaritas Tanpa Batas: Vespa Jadi Identitas Diri dan Ruang Bertemunya Berbagai Generasi

18 June 2026 - 11:43 WIB

Trending Topik Life Style