Covesia.co.id – Jumlah titik panas atau hotspot di Pulau Sumatera mengalami penurunan cukup signifikan pada Minggu (13/9/2026).
Berdasarkan pemantauan BMKG, jumlah hotspot turun dari 1.186 titik pada Sabtu (12/9) menjadi 673 titik pada Minggu pagi. Artinya, dalam sehari terjadi penurunan sebanyak 513 titik atau sekitar 43,3 persen.
Penurunan juga terlihat cukup tajam di Provinsi Riau. Jika sehari sebelumnya masih terpantau 44 hotspot, pada Minggu pagi jumlahnya turun menjadi hanya 12 titik.
Dari 12 hotspot tersebut, sebanyak 11 titik berada di Kabupaten Indragiri Hulu dan satu titik berada di Kabupaten Pelalawan. Data tersebut menunjukkan jumlah hotspot Riau berkurang 32 titik atau sekitar 72,7 persen dibandingkan sehari sebelumnya.
Meski secara umum mengalami penurunan, Sumatera Selatan masih menjadi wilayah dengan jumlah hotspot terbanyak di Sumatera.
Dari total 673 titik yang terpantau BMKG pada Minggu pagi, sebanyak 487 titik berada di Sumatera Selatan.
Selain Sumatera Selatan, hotspot juga terpantau di Bangka Belitung sebanyak 78 titik, Lampung 68 titik, Bengkulu 11 titik, Jambi tujuh titik, Sumatera Utara enam titik, Kepulauan Riau dua titik, serta Aceh dan Sumatera Barat masing-masing satu titik.
Penurunan jumlah titik panas belum berarti seluruh potensi kebakaran hutan dan lahan telah berakhir.
Hal itu terlihat dari pemantauan Kementerian Kehutanan menggunakan indikator hotspot dengan tingkat kepercayaan tinggi atau high confidence.
Sumatera Selatan masih mencatat 11 titik, meskipun angka tersebut turun 23 titik dari pemantauan sebelumnya yang mencapai 34 titik. Sementara Riau dan Jambi tercatat nihil hotspot high confidence.
Perbedaan angka antara data BMKG dan Kementerian Kehutanan terjadi karena keduanya menggunakan indikator pemantauan yang berbeda.
Hotspot hasil pantauan satelit merupakan indikasi adanya titik panas dan tidak secara otomatis berarti lokasi tersebut sedang mengalami kebakaran. Karena itu, temuan hotspot tetap membutuhkan pengecekan atau ground check di lapangan.
BMKG sebelumnya mengingatkan September 2026 masih menjadi periode yang perlu diwaspadai terhadap kebakaran hutan dan lahan.
Kondisi cuaca yang cenderung kering, pengaruh El Nino dan masih tingginya akumulasi hotspot di sejumlah wilayah menjadi faktor yang membuat potensi karhutla tetap perlu diantisipasi. (*)











