Menu ✖

Mode Gelap
Operasi Senyap Polda Sumbar di Pasaman, Alat Berat dan Operator Berhasil Diamankan Polisi Razia Tempat Hiburan Malam di Solok, Ratusan Botol Miras Disita Hujan Intensitas Sedang Hingga Lebat Diprakirakan Guyur Sejumlah Wilayah Sumbar  Sumbar Diprediksi Diguyur Hujan Berintensitas Sedang- Lebat Hari Ini Mengenal Yulius, Hakim Agung Kelahiran Bukittinggi yang Pimpin Sidang Kasasi Suket Gibran Waspada! November-Desember Jadi Puncak Musim Hujan di Sumbar

Lingkungan

Karhutla di Sumatera Mulai Mereda, Hotspot Turun Hingga 43 Persen

Hajrafiv Satya Nugrahabadge-check

Karhutla di Sumatera Mulai Mereda, Hotspot Turun Hingga 43 Persen Perbesar

Covesia.co.id – Jumlah titik panas atau hotspot di Pulau Sumatera mengalami penurunan cukup signifikan pada Minggu (13/9/2026).

Berdasarkan pemantauan BMKG, jumlah hotspot turun dari 1.186 titik pada Sabtu (12/9) menjadi 673 titik pada Minggu pagi. Artinya, dalam sehari terjadi penurunan sebanyak 513 titik atau sekitar 43,3 persen.

Penurunan juga terlihat cukup tajam di Provinsi Riau. Jika sehari sebelumnya masih terpantau 44 hotspot, pada Minggu pagi jumlahnya turun menjadi hanya 12 titik.

Dari 12 hotspot tersebut, sebanyak 11 titik berada di Kabupaten Indragiri Hulu dan satu titik berada di Kabupaten Pelalawan. Data tersebut menunjukkan jumlah hotspot Riau berkurang 32 titik atau sekitar 72,7 persen dibandingkan sehari sebelumnya.

Meski secara umum mengalami penurunan, Sumatera Selatan masih menjadi wilayah dengan jumlah hotspot terbanyak di Sumatera.

Dari total 673 titik yang terpantau BMKG pada Minggu pagi, sebanyak 487 titik berada di Sumatera Selatan.

Selain Sumatera Selatan, hotspot juga terpantau di Bangka Belitung sebanyak 78 titik, Lampung 68 titik, Bengkulu 11 titik, Jambi tujuh titik, Sumatera Utara enam titik, Kepulauan Riau dua titik, serta Aceh dan Sumatera Barat masing-masing satu titik.

Penurunan jumlah titik panas belum berarti seluruh potensi kebakaran hutan dan lahan telah berakhir.

Hal itu terlihat dari pemantauan Kementerian Kehutanan menggunakan indikator hotspot dengan tingkat kepercayaan tinggi atau high confidence.

Sumatera Selatan masih mencatat 11 titik, meskipun angka tersebut turun 23 titik dari pemantauan sebelumnya yang mencapai 34 titik. Sementara Riau dan Jambi tercatat nihil hotspot high confidence.

Perbedaan angka antara data BMKG dan Kementerian Kehutanan terjadi karena keduanya menggunakan indikator pemantauan yang berbeda.

Hotspot hasil pantauan satelit merupakan indikasi adanya titik panas dan tidak secara otomatis berarti lokasi tersebut sedang mengalami kebakaran. Karena itu, temuan hotspot tetap membutuhkan pengecekan atau ground check di lapangan.

BMKG sebelumnya mengingatkan September 2026 masih menjadi periode yang perlu diwaspadai terhadap kebakaran hutan dan lahan.

Kondisi cuaca yang cenderung kering, pengaruh El Nino dan masih tingginya akumulasi hotspot di sejumlah wilayah menjadi faktor yang membuat potensi karhutla tetap perlu diantisipasi. (*)

Facebook Comments Box

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Belum ada komentar disini
Jadilah yang pertama berkomentar disini
Kabar lainnya

Polda Sumbar Ungkap Dugaan Jaringan Penadah Motor Lintas Provinsi

31 Oktober 2026 - 12:46 WIB

Antisipasi Bencana, IJTI Sumbar Soroti Efektivitas CSR dan Pemulihan Pasca-Bencana

22 Oktober 2026 - 19:23 WIB

Kualitas Udara di Sumbar Belum Menunjukkan Tanda Membaik

20 Oktober 2026 - 09:18 WIB

BMKG Keluarkan Peringatan Dini Cuaca Ekstrem untuk Sejumlah Wilayah Sumbar

19 Oktober 2026 - 09:00 WIB

Ini Tanggapan Dishut Sumbar Soal Tumpang Tindih Tanah Milik Fauzi Bahar

17 Oktober 2026 - 11:36 WIB

Trending Topik Lingkungan