Covesia.co.id – Di tengah sorotan publik atas meninggalnya seorang siswi sekolah dasar (SD) di Kota Padang yang diduga berkaitan dengan perundungan (bullying), orang tua siswa lain di sekolah yang sama mulai berani membuka suara.
Fikri (38, nama samaran), salah satu wali murid, mengungkapkan bahwa anaknya juga menjadi korban dugaan perundungan fisik, verbal, hingga pemerasan di sekolah tersebut.
Fikri menyebutkan perundungan terhadap anaknya yang juga seorang siswi SD telah berlangsung cukup lama. Menurutnya, aksi tersebut dipicu oleh kondisi fisik sang anak yang memiliki tanda lahir di wajah.
“Anak saya karena ada tanda di wajahnya sering dibuli. Ada yang tidak mau berteman, dipukul juga karena anak saya ada tanda lahir,” ujar Fikri saat diwawancarai, Senin (3/7/2026).
Ia menegaskan perlakuan yang diterima anaknya tidak sebatas ejekan, melainkan sudah mengarah pada kekerasan fisik. Fikra mengaku kerap menemukan bekas luka memar pada tubuh buah hatinya.
“Itu bukan sekadar bicara saja. Memang main fisik. Ada biru juga di badan anak saya,” kata Fikri.
Tak hanya tindakan kekerasan fisik dan verbal, Fikri juga membeberkan adanya dugaan pemerasan finansial. Ia mendapati anaknya sering mengambil uang di rumah dalam jumlah besar untuk diserahkan kepada terduga pelaku demi keamanan dirinya.
“Anak saya sering mengambil uang. Nominalnya bukan puluhan ribu tapi ratusan ribu dengan usia anak yang masih duduk di bangku SD. Dalam seminggu bisa tiga kali. Pelakunya bukan meminta, tapi anak saya memberikan supaya dia aman,” ungkapnya.
Fikri menjelaskan, terduga pelaku perundungan juga merupakan seorang siswi dan hingga kini masih bersekolah di tempat yang sama dengan anaknya.
Disamping itu, Fikri menyayangkan sikap pihak sekolah yang dinilainya terkesan mengabaikan laporan serta menampik adanya praktik perundungan di lingkungan sekolah.
“Kalau pihak sekolah bilang tidak ada pembulian, saya sebagai orang tua tidak menerima. Anak saya sekolah di tempat yang sama dengan korban yang meninggal,” tegasnya.
Ia mengaku telah berulang kali meminta jaminan keselamatan untuk anaknya, termasuk tindakan tegas berupa sanksi atau pemanggilan orang tua pelaku. Namun, tindakan nyata dari pihak sekolah dinilai belum ada.
“Kita sudah percayakan anak ke sekolah. Tapi kalau sekolah tidak merespons, tidak memberi peringatan kepada pelaku atau orang tuanya, bagaimana keselamatan anak kami?” tuturnya.
Atas kondisi tersebut, Fikri menyatakan siap membawa kesaksiannya ke jalur hukum apabila kasus dugaan perundungan di sekolah ini berlanjut ke persidangan.
“Saya siap bersaksi di persidangan kalau memang perkara ini dibawa ke pengadilan,” tegas Fikri.
Tim Covesia.co.id telah berupaya menghubungi pihak sekolah untuk mengkonfirmasi kejadian tersebut. Namun, hingga berita ini ditayangkan, jawaban dan konfirmasi belum kami dapatkan. (*)











