Covesia.co.id – Di tengah kondisi curah hujan yang masih tinggi di Sumatera Barat, ada 8 titik api (hotspot-red) yang muncul sepekan terakhir.
Walaupun belum menunjukkan kondisi yang mengkhawatirkan, kemunculkan 8 titik api ini sebagai pengingat mitigasi bencana.
Koordinator Observasi dan Informasi BMKG Minangkabau Yudha Nugraha menyebutkan pantauan satelit dari sistem SiPongi, Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK), terdeteksi delapan titik panas dengan tingkat kepercayaan medium hingga tinggi.
“Dalam sepekan terakhir, terpantau 8 titik api di Sumbar. Tersebar di Pesisir Selatan, Sijunjung, Dharmasraya dan Pasaman Barat, ” Kata Yudha kepada Covesia.co.id, Kamis (30/7/2026).
Dikatakannya, tingkat kepercayaan 8 titik api tersebut memiliki tingkat kepercayaan medium hingga tinggi.
“Walaupun muncul titik api di beberapa wilayah, Sumbar masih jauh dari kondisi darurat Karhutla, ” Katanya.
Secara klimatologis, pada Juli dan Agustus 2026, Yudha menyampaikan Sumbar masih berada pada pola hujan ekuatorial dengan curah hujan bulanan yang relatif tinggi.
Karakteristik iklim Sumatera Barat memiliki dua puncak musim hujan, yaitu sekitar November-Desember dan Maret-April. Curah hujan bulanan umumnya tetap berada di atas 150 milimeter, sehingga potensi cuaca ekstrem dapat terjadi hampir sepanjang tahun.
“Memasuki Juli hingga Agustus memang ada tren peningkatan curah hujan kembali,” ujarnya.
Untuk curah hujan selama Juli, masih berada pada kategori menengah atau berkisar 200 hingga 300 milimeter per bulan. Artinya hujan yang mengguyur masih tergolong normal. (*)










