Menu

Mode Gelap
Longsor Tutup Jalur Lembah Anai, Akses Padang–Bukittinggi Putus Total Korban TPPO di Myanmar Asal Sumbar Dipulangkan, Kini di Shelter BP3MI LBH Sumbar: Lemahnya Pengawasan Picu Pembakaran Hutan Berulang Gubernur Nonaktif Riau Abdul Wahid Divonis 2 Tahun Penjara Warga Sumbar Korban TPPO di Myanmar Berhasil Dipulangkan ke Indonesia Prabowo Resmi Naikkan Tukin TNI, Prajurit Terima Rp 2,5 Juta Perbulan

News

Sosiolog: Kasus Ledakan Bom di MAN 3 Padang Jadi Alarm Serius Penanganan Bullying

badge-check

Sosiolog: Kasus Ledakan Bom di MAN 3 Padang Jadi Alarm Serius Penanganan Bullying Perbesar

Covesia.co.id – Peristiwa ledakan bom rakitan yang dilakukan seorang siswa di MAN 3 Padang menjadi pengingat bahwa persoalan bullying di lingkungan sekolah tidak boleh lagi dianggap sebagai kenakalan biasa.

Sosiolog Universitas Islam Negeri (UIN) Imam Bonjol Padang, Muhammad Taufik, menilai kasus tersebut harus menjadi momentum untuk memperkuat upaya pencegahan perundungan di sekolah.

Menurut Taufik, sekolah merupakan miniatur masyarakat sehingga berbagai persoalan sosial yang terjadi di luar sekolah juga dapat tercermin di lingkungan pendidikan.

“Masalah bullying itu sangat penting karena sekolah adalah miniatur masyarakat. Apa yang terjadi di sekolah sering kali menjadi gambaran dari apa yang terjadi di luar sekolah. Jadi, bullying tidak bisa dilihat hanya sebagai masalah yang terjadi di sekolah saja,” kata Taufik kepada Covesia.co.id, Rabu (15/7/2026).

Ia menjelaskan, bullying tidak muncul karena satu faktor, melainkan merupakan gabungan dari berbagai kondisi sosial. Salah satu penyebabnya adalah lingkungan keluarga dan pola asuh. Anak-anak cenderung meniru perilaku yang mereka lihat di rumah.

Ketika terbiasa menyaksikan kekerasan, imbuhnya,  kurang mendapat perhatian, atau dibesarkan dengan pola asuh yang tidak sehat, mereka bisa menganggap perilaku tersebut sebagai sesuatu yang wajar.

Selain itu, kebutuhan remaja untuk diterima dalam kelompok pertemanan juga menjadi faktor yang memengaruhi. Demi mendapatkan pengakuan dari teman sebaya, sebagian remaja rela mengikuti perilaku kelompoknya, termasuk ketika kelompok tersebut terbiasa mengejek atau merundung siswa lain.

“Kalau lingkungannya baik, mereka akan ikut berperilaku baik. Namun, kalau kelompoknya terbiasa mengejek atau merundung orang lain, mereka bisa ikut melakukan hal yang sama karena takut dikucilkan,” ujarnya.

Taufik juga menyoroti masih kuatnya normalisasi terhadap bullying. Menurutnya, banyak tindakan perundungan dianggap hanya sebagai candaan sehingga dampak yang dialami korban sering diabaikan.

Dalam banyak kasus, kata dia, teman-teman yang menyaksikan bullying memilih diam atau menjadi bystander. Mereka takut ikut menjadi korban atau tidak tahu harus melapor kepada siapa. Akibatnya, muncul budaya diam yang membuat perundungan terus berulang tanpa terdeteksi oleh pihak sekolah.

Ia menambahkan, bullying kini tidak hanya terjadi di lingkungan sekolah, tetapi juga berlanjut melalui media sosial dan aplikasi percakapan. Kondisi tersebut membuat tekanan terhadap korban berlangsung lebih lama, bahkan setelah mereka berada di rumah.
Menurut Taufik, kasus ledakan bom rakitan di MAN 3 Padang menjadi pelajaran bahwa persoalan sosial di sekolah harus ditangani sejak dini. Ia mengingatkan agar penyebab suatu peristiwa tidak disederhanakan hanya pada satu faktor, tetapi dipahami secara menyeluruh.

“Bullying tidak bisa dijelaskan hanya dari satu penyebab. Ada pengaruh keluarga, lingkungan pertemanan, budaya yang menganggap bullying sebagai hal biasa, hingga tidak adanya keberanian untuk melapor. Semua faktor itu harus menjadi perhatian bersama,” katanya.

Ia menegaskan, penanganan bullying harus melibatkan seluruh pihak, mulai dari orang tua, guru, siswa, hingga masyarakat. Sekolah juga perlu membangun lingkungan yang aman dan terbuka agar siswa berani bercerita ketika menjadi korban maupun menyaksikan tindakan perundungan.

“Siswa juga perlu dibiasakan untuk berani speak up. Kalau melihat bullying, jangan hanya diam. Mereka bisa membantu korban atau melapor kepada guru maupun orang dewasa yang dipercaya. Dengan begitu, rantai bullying dapat diputus dan budaya saling peduli bisa terbentuk,” tutupnya.

Facebook Comments Box

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Belum ada komentar disini
Jadilah yang pertama berkomentar disini
Kabar lainnya

Longsor Tutup Jalur Lembah Anai, Akses Padang–Bukittinggi Putus Total

30 Juli 2026 - 23:56 WIB

Korban TPPO di Myanmar Asal Sumbar Dipulangkan, Kini di Shelter BP3MI

30 Juli 2026 - 21:17 WIB

LBH Sumbar: Lemahnya Pengawasan Picu Pembakaran Hutan Berulang

30 Juli 2026 - 18:53 WIB

Gubernur Nonaktif Riau Abdul Wahid Divonis 2 Tahun Penjara

30 Juli 2026 - 15:24 WIB

Warga Sumbar Korban TPPO di Myanmar Berhasil Dipulangkan ke Indonesia

30 Juli 2026 - 15:01 WIB

Trending Topik News