Menu ✖

Mode Gelap
Pelabuhan Teluk Tapang Disiapkan Jadi Pusat Industri dan Energi Nasional Polres Pariaman Tangkap Pria 56 Tahun Terkait Dugaan Pencemaran Nama Baik Kebakaran Dini Hari Hanguskan Studio Foto di Padang Sambut HUT ke-81 Brimob, Polda Sumbar Bersihkan Pantai Purus Padang Harga Batu Bara November 2026 Turun, Kalori Menengah dan Rendah Naik SMKN 1 Sasak Direlokasi, Rp3 Miliar Digelontorkan untuk Atasi Ancaman Banjir

News

Harga Minyak Dunia Turun Drastis, Efek Selat Hormuz Mulai Normal

Redaksi Covesiabadge-check

Harga Minyak Dunia Turun Drastis, Efek Selat Hormuz Mulai Normal Perbesar

 

Covesia.co.id – Sejak empat bulan terakhir, harga minyak hari ini, Rabu (24/6/2026) menunjukkan trend positif. Dimana harga minyak dunia turun drastis, melebihi 1 persen ke harga sekitar US$75,88 per barel. Sementara minyak mentah West Texas Intermediate (WITI) turun ke sekitar US$72,07 per barel. Kembalinya harga minyak ini karena pasar berkeyakinan bahwa pengiriman minyak melalui selat Hormuz mulai kembali normal setelah meredanya ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran.

Para pelaku pasar menilai risiko gangguan pasokan dari kawasan Teluk mulai berkurang setelah lebih banyak kapal tanker berhasil melewati Selat Hormuz, jalur strategis yang menjadi pintu keluar utama ekspor minyak Timur Tengah.

Oman dilaporkan membuka jalur pelayaran sementara tanpa biaya bagi kapal-kapal yang sebelumnya tertahan akibat konflik, sehingga mempercepat normalisasi distribusi minyak dari kawasan tersebut.

Selain faktor pengiriman, pasar juga mempertimbangkan kemungkinan bertambahnya pasokan minyak Iran. Reuters melaporkan bahwa pelonggaran sementara sanksi Amerika Serikat dan izin ekspor selama 60 hari memungkinkan Iran kembali menjual minyak mentah ke pasar internasional dalam jumlah yang lebih besar.

Tekanan terhadap harga juga datang dari pasar fisik minyak dunia. Pasokan dari Iran, Irak, Kuwait, dan Uni Emirat Arab meningkat dalam beberapa pekan terakhir sehingga sejumlah kargo dijual dengan diskon untuk menarik pembeli. Banyak kilang di Asia bahkan telah mengamankan pasokan hingga Agustus sehingga permintaan pembelian tambahan menjadi terbatas.

Meski demikian, analis memperingatkan bahwa risiko geopolitik belum sepenuhnya hilang. Washington dan Teheran masih memiliki perbedaan pandangan mengenai inspeksi program nuklir Iran serta mekanisme pelaksanaan kesepakatan pascakonflik. Ketidakpastian tersebut dapat kembali memicu volatilitas harga minyak apabila situasi memburuk.

Selat Hormuz tetap menjadi titik krusial bagi pasar energi global karena sekitar seperlima perdagangan minyak dunia melewati jalur tersebut. Setiap gangguan baru berpotensi langsung memengaruhi harga energi internasional.

Sebelumnya, selama puncak krisis Hormuz pada Maret 2026, harga Brent sempat melonjak hingga melampaui US$120 per barel akibat terganggunya pasokan global. Kini pasar bergerak ke arah sebaliknya setelah arus ekspor mulai pulih dan pasokan kembali meningkat. (*)

 

Facebook Comments Box

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Belum ada komentar disini
Jadilah yang pertama berkomentar disini
Kabar lainnya

Pelabuhan Teluk Tapang Disiapkan Jadi Pusat Industri dan Energi Nasional

6 November 2026 - 16:45 WIB

Polres Pariaman Tangkap Pria 56 Tahun Terkait Dugaan Pencemaran Nama Baik

6 November 2026 - 15:43 WIB

Kebakaran Dini Hari Hanguskan Studio Foto di Padang

6 November 2026 - 15:06 WIB

Sambut HUT ke-81 Brimob, Polda Sumbar Bersihkan Pantai Purus Padang

6 November 2026 - 11:33 WIB

Harga Batu Bara November 2026 Turun, Kalori Menengah dan Rendah Naik

6 November 2026 - 11:26 WIB

Trending Topik Ekonomi dan Bisnis