Covesia.co.id – Potensi besar Sungai Kampar yang membelah Desa Pulau Gadang, Kabupaten Kampar, Riau, mulai diarahkan menjadi sumber pertumbuhan ekonomi baru melalui pengembangan desa wisata.
Upaya ini lahir dari program pengabdian masyarakat Tim Departemen Sejarah, Fakultas Ilmu Sosial, Universitas Negeri Padang (UNP) pada 27–31 Juli 2026.
Program yang dipimpin oleh Dr. Drs. Etmi Hardi, M.Hum ini mengikutsertakan enam dosen lintas keahlian.
Mereka adalah Dr. Rusdi, M.Hum, Dr. Hendra Naldi, M.Hum, Prof. Dr. Erniwati, S.S., M.Hum, Dr. Abdul Salam, S.Ag., M.Hum, Elfa Michellia Karima, S.Pd., M.Pd., Yuhardi, S.Pd., M.Pd.serta melibatkan lima mahasiswa Program Studi Pendidikan Sejarah.
Selama tim berasa di Desa Pulau Gadang, mereka melihat potensi alam dan budaya yang perlu dikelola secara optimal.
Dengan adanya managemen yang tersusun rapi, besar peluang Desa wisata terwujud di desa ini. Masyarakat bisa memanfaatkan status Desa wisata untuk mengembangkan usaha berbasis ekowisata.
“Desa Pulau Gadang punya potensi Desa wisata. Hanya perlu pengelolaan yang tersusun rapi, ” Kata Etmi Hardi kepada Covesia.co.id, Sabtu (1/8/2026).
Desa Pulau Gadang yang seluas 1.250 hektare ini didominasi wilayah perairan. Mayoritas, Desa berasa di sepadan sungai. Sekitar 2.500 penduduknya bekerja sebagai nelayan dan petani. Pendapatan mereka masih jauh dari kata sejahtera, yakni di angkat rata-rata Rp1,2 juta hingga Rp1,8 juta per bulan.
Dijelaskan Etmi Hardi, kedatangan tim ke Pau Gadang ini dirancang agar masyarakat bisa menjadi pelaku utama dalam pengelolaan potensi wisata di desanya.
“Kami ingin masyarakat Pulau Gadang tidak hanya menjadi penonton dari potensi alam yang mereka miliki. Tapi benar-benar menjadi pengelola utama desa wisata mereka sendiri,” Ucap Etmi Hardi.

Pendampingan ini kata Etmi Hardi, bukan sekadar kegiatan seremonial. Tapi upaya nyata untuk membangun kapasitas masyarakat dalam mengelola destinasi wisata secara mandiri dan berkelanjutan.
Selain panorama sungai yang masih alami, Desa Pulau Gadang juga memiliki hutan riparian dengan keanekaragaman hayati yang tinggi.
Berbagai aktivitas wisata dapat dikembangkan. Mulai dari susur sungai menggunakan perahu tradisional, memancing, hingga wisata kuliner khas berbahan ikan sungai seperti gulai ikan patin dan asam pedas ikan baung.
Namun, pengembangan wisata masih menghadapi sejumlah kendala. Mulai dari keterbatasan sumber daya manusia, belum terbentuknya kelembagaan wisata yang kuat, minimnya sarana pendukung, hingga belum optimalnya promosi destinasi.
Sebagai bagian dari pendampingan, tim UNP menyelenggarakan seminar bagi masyarakat dan Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis).
Seminar ini menghadirkan dua narasumber, Abdul Hafis, S.E., M.Si., M.M., dan David Hendra, S.E., M.M.
Kedua narasumber membahas strategi pengelolaan usaha, manajemen keuangan kelompok wisata, pelayanan wisatawan (hospitality), hingga pemasaran produk desa wisata.
Abdul Hafis menekankan bahwa keberhasilan desa wisata tidak hanya ditentukan oleh keindahan alam, tetapi juga kemampuan masyarakat mengelola usaha secara profesional.
“Potensi wisata yang baik harus didukung dengan manajemen usaha yang sehat. Pengurus Pokdarwis perlu memahami tata kelola keuangan, pembagian tugas, serta strategi pengembangan usaha,” katanya.

Sementara itu, David Hendra mengingatkan pentingnya kemampuan berinteraksi dengan wisatawan dan memanfaatkan teknologi digital dalam promosi destinasi.
“Saat ini wisatawan mencari informasi melalui media digital. Karena itu, pengelola desa wisata harus mampu membangun citra destinasi melalui media sosial, platform pencarian lokasi, dan pelayanan yang ramah sehingga wisatawan memiliki pengalaman yang baik dan ingin kembali berkunjung,” ujarnya.
Selain seminar, masyarakta juga diberikan materi penguatan kelembagaan Pokdarwis. Kemudian pelatihan pemandu wisata, pelayanan tamu, penyusunan paket ekowisata sungai dan penataan sarana sederhana.
Kepala Desa Pulau Gadang, Syofian, S.H., M.H., N.Lp, menyambut baik program yang dilaksanakan UNP ini.
Menurutnya, pendampingan menjadi langkah awal dalam membangun sektor pariwisata desa yang lebih terarah.
“Kami sangat mengapresiasi kehadiran tim Universitas Negeri Padang. Pendampingan ini memberikan pengetahuan baru bagi masyarakat dan menjadi motivasi untuk membangun kelembagaan wisata yang kuat. Harapannya, desa wisata ini mampu membuka lapangan kerja baru, terutama bagi generasi muda, sekaligus meningkatkan kesejahteraan masyarakat,” kata Syofian.

Program ini juga melibatkan Ketua Pokdarwis De Mahligai Resort and Glamping, Maulana Syaifurrasyid, S.H., sebagai mitra yang mendampingi seminar.
Maulana berharap kolaborasi antara perguruan tinggi, pemerintah desa, dan masyarakat dapat terus berlanjut sehingga pengembangan wisata tidak berhenti setelah program pengabdian selesai.
“Pendampingan seperti ini sangat penting karena masyarakat tidak hanya diberikan teori, tetapi juga didampingi dalam menyusun langkah-langkah nyata pengembangan desa wisata. Kami optimistis Pulau Gadang memiliki peluang besar menjadi salah satu destinasi ekowisata unggulan di Riau,” ujarnya.
Usai masa pendampingan intensif tersebut, Tim Pengabdian Masyarakat UNP menegaskan akan terus memantau perkembangan Pokdarwis Desa Pulau Gadang melalui kegiatan pendampingan lanjutan dan penelitian. (*)











