Covesia.co.id – Hubungan antara UEFA dan Presiden FIFA Gianni Infantino memasuki fase paling panas dalam beberapa tahun terakhir.
Perselisihan yang semula dipicu oleh berbagai kebijakan FIFA kini berkembang menjadi krisis kepemimpinan.
UEFA secara terbuka menyatakan kehilangan kepercayaan terhadap Infantino dan mulai membahas langkah-langkah politik untuk mengganti pucuk pimpinan federasi sepak bola dunia tersebut.
Puncak ketegangan terjadi setelah FIFA membatalkan rencana pembentukan FIFA Forward Enterprise (FFE), sebuah skema yang bertujuan menjual sebagian hak komersial Piala Dunia kepada investor swasta.
Proposal bernilai sekitar US$4,2 miliar itu memicu gelombang penolakan karena dinilai disusun tanpa konsultasi yang memadai dengan konfederasi dan asosiasi anggota FIFA.
Presiden UEFA Aleksander Ceferin menilai rencana tersebut telah melewati batas tata kelola sepak bola internasional.
UEFA bahkan memperingatkan FIFA mengenai kemungkinan langkah hukum serta meminta seluruh dokumen terkait proposal itu dipertahankan sebagai bagian dari potensi proses litigasi.
Dalam pernyataannya, UEFA menyebut penarikan proposal tersebut sebagai kemenangan bagi sepak bola dunia. Namun menegaskan bahwa persoalan sesungguhnya adalah buruknya transparansi dan tata kelola di bawah kepemimpinan Gianni Infantino.
Sikap serupa juga disampaikan Konfederasi Sepak Bola Amerika Utara, Tengah, dan Karibia (CONCACAF), yang menyatakan telah kehilangan kepercayaan terhadap kepemimpinan FIFA.
Reuters melaporkan bahwa UEFA kini mulai menjajaki kemungkinan menggalang dukungan menjelang Kongres FIFA Luar Biasa sebagai salah satu mekanisme politik yang dapat digunakan untuk menantang kepemimpinan Infantino.
Meski demikian, upaya tersebut diperkirakan tidak mudah karena setiap dari 211 anggota FIFA memiliki hak suara yang sama, sehingga dukungan dari negara-negara kecil akan sangat menentukan hasil pemungutan suara.
Di tengah memanasnya situasi, sejumlah federasi nasional mulai menarik dukungan politik terhadap Infantino menjelang pemilihan Presiden FIFA tahun 2027.
UEFA juga dilaporkan tengah mencari figur alternatif yang dinilai mampu memimpin FIFA dengan pendekatan tata kelola yang lebih transparan dan akuntabel.
Ketegangan antara UEFA dan FIFA sebenarnya telah berlangsung dalam beberapa tahun terakhir. Perselisihan mencakup perluasan Piala Dunia Antarklub.
Padatnya kalender pertandingan internasional, hingga berbagai keputusan FIFA yang dianggap lebih mengutamakan kepentingan komersial dibanding kepentingan olahraga.
Konflik tersebut semakin terlihat selama Piala Dunia 2026 ketika Ceferin memboikot laga final sebagai bentuk protes terhadap sejumlah keputusan FIFA yang dinilai mencederai integritas kompetisi.
Media internasional juga melaporkan bahwa sejumlah tokoh sepak bola, termasuk Presiden LaLiga Javier Tebas, secara terbuka meminta Gianni Infantino mundur dari jabatannya.
Mereka menilai kebijakan ekspansi turnamen dan arah pengelolaan FIFA telah membawa industri sepak bola ke jalur yang semakin mengedepankan kepentingan bisnis.
Meski tekanan terhadap Infantino terus meningkat, peluang munculnya mosi tidak percaya secara efektif masih bergantung pada kemampuan UEFA dan sekutunya menggalang dukungan mayoritas anggota FIFA.
Reuters menyebut banyak asosiasi sepak bola dari negara berkembang masih memperoleh manfaat besar dari program pendanaan FIFA.
Dukungan terhadap Infantino muncul di kawasan Afrika, Asia, dan Oseania. Kondisi tersebut membuat pertarungan politik menuju Kongres FIFA dan pemilihan presiden 2027 diprediksi berlangsung semakin sengit. (*)










