Covesia.co.id — Galodo yang menerjang sejumlah wilayah di Solok, Sumatera Barat pada Senin (21/9/2026) bukan semata-mata dipicu hujan lebat.
Peneliti dan edukator mitigasi bencana Dr. Daryono mengungkap adanya rangkaian faktor yang saling berkaitan hingga membentuk aliran banjir bandang dengan daya rusak besar.
Daryono menjelaskan, hujan lebat memang menjadi pemicu meteorologis. Namun, besarnya galodo juga dipengaruhi kondisi lereng, kejenuhan tanah, material longsoran, material yang berada di alur sungai, tutupan lahan hingga karakter daerah aliran sungai (DAS).
Menurutnya, hujan dengan akumulasi sekitar 94 milimeter per hari di wilayah Solok meningkatkan suplai air ke DAS dalam waktu relatif cepat.
Hujan yang berlangsung selama beberapa jam membuat air semakin banyak masuk ke dalam tanah.
Ketika kemampuan tanah menyerap air terlampaui, limpasan permukaan meningkat dan air lebih cepat terkonsentrasi menuju alur sungai.
Kondisi tersebut diperkuat karakter topografi Solok yang memiliki wilayah perbukitan hingga pegunungan dengan lereng relatif curam.
Kemiringan lereng membuat aliran permukaan bergerak lebih cepat dan memiliki energi gravitasi besar. Kondisi ini memungkinkan air mengerosi serta membawa tanah, batu, kayu dan material lainnya menuju alur sungai.
Daryono mengatakan hujan yang berlangsung terus-menerus juga dapat membuat tanah semakin jenuh.
Ketika tanah mendekati kondisi jenuh, tekanan air pori meningkat sehingga kekuatan geser tanah menurun. Akibatnya, lereng menjadi lebih mudah mengalami longsor.
Material longsoran seperti tanah, batu dan pohon kemudian dapat masuk ke alur sungai dan terbawa bersama aliran air.
“Galodo bukan sekadar aliran air, tetapi dapat menjadi aliran campuran air dan material padat,” jelas Daryono dalam akun instagram pribadi miliknya.
Material yang sebelumnya sudah berada di dalam alur sungai juga dapat ikut bergerak ketika debit air meningkat secara tiba-tiba.
Endapan pasir, kerikil, bongkah batu, kayu hingga material longsoran di dasar dan tebing sungai dapat kembali termobilisasi. Material tersebut kemudian menambah volume sekaligus energi aliran galodo.
Selain faktor hujan, kondisi tutupan lahan juga menjadi salah satu aspek yang perlu dikaji.
Vegetasi memiliki peran dalam menahan air hujan, meningkatkan infiltrasi dan mengurangi limpasan permukaan. Sebaliknya, berkurangnya vegetasi atau terganggunya permukaan tanah berpotensi meningkatkan limpasan dan erosi.
Namun, Daryono mengingatkan perubahan tutupan lahan tidak bisa langsung disebut sebagai penyebab galodo Solok tanpa didukung data.
“Namun, kontribusi perubahan tutupan lahan pada kejadian Solok harus dibuktikan dengan data penggunaan lahan, sehingga jangan langsung disebut sebagai penyebab tanpa analisis,” katanya.
Faktor lain adalah karakter DAS. Air dari berbagai lereng dan anak sungai akan berkumpul menuju lembah dan alur sungai utama.
Pada DAS dengan kondisi curam, waktu konsentrasi air menjadi lebih pendek sehingga debit dapat meningkat dengan cepat. Ketika kondisi tersebut bersamaan dengan masuknya material longsoran dan sedimen, terbentuk aliran deras yang membawa lumpur, batu hingga kayu.
Daryono menyebut hujan lebat tetap menjadi pemicu utama dari sisi meteorologis. Namun, hujan bukan satu-satunya faktor yang menentukan terbentuk dan besarnya galodo.
Kemiringan lereng, kejenuhan tanah, longsoran, ketersediaan material lepas, kondisi alur sungai, tutupan lahan dan karakter DAS ikut menentukan bagaimana air hujan berubah menjadi aliran banjir bandang yang membawa material dalam jumlah besar.
Khusus untuk Solok, Daryono menilai masih diperlukan verifikasi melalui survei DAS dan data lapangan untuk mengetahui kondisi tutupan lahan serta besarnya kontribusi masing-masing proses.
“Untuk Solok, faktor tutupan lahan dan besarnya kontribusi masing-masing proses masih perlu diverifikasi dengan survei DAS dan data lapangan,” ujarnya. (*)










