Covesia.co.id – Masa kecil yang seharusnya diisi dengan bermain dan belajar justru menjadi awal luka panjang bagi RD warga Batang Anai, Padang Pariaman, Sumbar. Sejak duduk di kelas 2 sekolah dasar, ia menjadi korban kekerasan seksual yang dilakukan ayah tirinya.
Luka itu tidak berhenti di masa kecil. Hingga kini, RD masih menjalani proses pemulihan dan menanggung dampak dari kekerasan yang dialaminya selama bertahun-tahun.
Di tengah perjuangan itu, cobaan lain datang. Ibunya meninggal dunia dalam kecelakaan di Padang saat berupaya melarikan diri bersama ayah tirinya.
Kepergian sang ibu membuat RD (16) kehilangan sosok tempat bergantung. Bebannya kian berat: selain harus pulih dari kekerasan seksual, ia juga kehilangan keluarga dan tempat berlindung.
RD kini ditempatkan di lembaga sosial di Bekasi untuk mendapatkan perlindungan, pendampingan, dan pemulihan.
Penyerahan pengasuhan dan pendampingan sementara dari RPSA Delima kepada Sentra Terpadu Pangudi Luhur Bekasi dilakukan pada 25 September 2026.
Ketua RPSA Delima, Fatmiyetti Kahar, yang akrab disapa Teta Sabar, menjelaskan bahwa pendampingan bagi RD mencakup perlindungan, rehabilitasi sosial, pemenuhan kebutuhan dasar, dan dukungan psikososial.
“Alhamdulillah dengan bantuan donatur kita sudah mengantarkan RD ke Bekasi, ” ujar Teta Sabar, Senin (28/9).
Di balik penempatan itu, masih ada pertanyaan besar tentang masa depan RD. Setelah bertahun-tahun mengalami kekerasan dan kehilangan ibu, bagaimana kehidupannya ke depan? Siapa yang akan bertanggung jawab atas kebutuhan hidupnya?
Keberadaan ayah kandung RD juga menjadi hal penting yang perlu dikonfirmasi, mengingat kini ia hidup dalam perlindungan lembaga sosial.
“Saat ini dia sebatang kara, ayah kandungnya masih belum diketahui keberadaannya,” kata Teta.
Yang dihadapi RD saat ini bukan sekadar persoalan masa lalu. Ia masih harus menata kembali hidupnya, melanjutkan pendidikan, dan mendapatkan pendampingan psikologis, serta jaminan rasa aman agar dapat menatap masa depan tanpa dibayangi kekerasan yang pernah dialaminya.
Kisah ini memperlihatkan panjangnya perjalanan seorang anak korban kekerasan seksual. Ketika satu per satu tempat bergantung hilang, RD harus belajar bertahan dan menata hidup kembali, jauh dari rumah. (*)










