Covesia.co.id — Delapan puluh satu tahun perjalanan Sumatera Barat menjadi momentum untuk melihat kembali modal utama yang dimiliki daerah.
Bagi Ketua DPRD Sumbar Muhidi, salah satu kekuatan terbesar itu bukan hanya sumber daya alam, melainkan kualitas manusianya.
Muhidi menilai kemampuan masyarakat Minangkabau dalam belajar, merantau, berdagang, membangun jaringan, dan beradaptasi merupakan modal sosial yang dapat dikembangkan menjadi kekuatan ekonomi daerah.
Hal itu disampaikannya dalam peringatan Hari Jadi Sumbar (HJS) ke-81, Kamis (1/10/2026).
“Tradisi masyarakat Minangkabau dalam belajar, merantau, berdagang, membangun jaringan dan beradaptasi harus diterjemahkan menjadi kekuatan ekonomi,” ujar Muhidi.
Menurutnya, Sumbar memiliki sejumlah capaian pembangunan yang patut diapresiasi. Indeks Pembangunan Manusia (IPM), misalnya, telah mencapai 77,27 dan berada di peringkat keenam tertinggi secara nasional.
Pada sisi lain, tingkat kemiskinan Sumbar pada Maret 2026 tercatat 5,27 persen dengan rasio gini 0,28.
Namun, Muhidi mengatakan angka-angka tersebut belum cukup untuk menggambarkan seluruh tantangan pembangunan daerah.
Pertumbuhan ekonomi, pemerataan pembangunan, kemandirian fiskal, hingga kemampuan menghadapi bencana masih membutuhkan perhatian.
“Kita perlu melihat secara jujur, sudah sejauh mana pembangunan memberikan manfaat bagi masyarakat? Sudah sejauh mana kesempatan tumbuh terbuka di berbagai wilayah?” katanya.
Karena itu, ia mendorong agar pembangunan SDM tidak berhenti pada peningkatan angka pendidikan atau indikator pembangunan manusia. Pengetahuan, menurutnya, harus mampu melahirkan keterampilan, inovasi, dan aktivitas ekonomi yang memberikan nilai tambah.
Pendidikan, keterampilan, kreativitas, inovasi, serta kewirausahaan dinilai perlu diperkuat secara bersamaan.
Perhatian juga diarahkan kepada pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM).
Muhidi mendorong agar UMKM di Sumbar tidak hanya bertahan, tetapi mampu berkembang dan naik kelas.
Dukungan tersebut dapat dilakukan melalui peningkatan pengetahuan, pemanfaatan teknologi, akses pembiayaan, digitalisasi, perluasan pasar, hingga pendampingan usaha.
“Pengetahuan harus melahirkan inovasi, dan inovasi harus menjadi kekuatan ekonomi. Karena itu, investasi terbesar Sumbar adalah investasi pada manusia,” ujarnya.
Muhidi menegaskan, capaian pembangunan yang telah diraih selama 81 tahun bukanlah tujuan akhir. Menurutnya, capaian tersebut harus menjadi pijakan untuk membuka lebih banyak kesempatan bagi masyarakat agar dapat tumbuh dan berkontribusi terhadap perekonomian daerah.
“Capaian hari ini bukan titik akhir, melainkan pijakan untuk melangkah lebih jauh,” tuturnya. (*)










