Covesia.co.id – Jalur Lembah Anai mendadak sunyi dari deru mesin kendaraan. Pada Rabu sore (24/6/2026) pukul 14.35 WIB, Jalan Raya Silaing—jalur legendaris yang menghubungkan Kota Padang dan Bukittinggi—kembali lumpuh total.
Material longsor berupa bebatuan besar dan tanah tebal menimbun KM 66.700, tepat di atas Jembatan Kembar dari arah Bukittinggi.
“Untuk sementara, pembersihan jalan belum bisa dilakukan karena diduga masih ada pergerakan tanah dan bebatuan dari arah bukit,” ujar Kasat Lantas Polres Padang Panjang, AKP Pifzen Finot, Rabu sore.
Bagi Sumatra Barat, kelumpuhan Silaing bukan sekadar perkara macet atau pengalihan rute. Ketika jalur ini terputus, separuh denyut ekonomi dan sejarah Ranah Minang seolah ikut terhenti.
Jauh sebelum aspal mulus membentang, kawasan Silaing di Lembah Anai adalah sebuah medan ekstrem yang dianggap “mustahil” untuk ditembus. Dinding perbukitan yang curam dan jeram sungai yang ganas membuat kawasan ini terisolasi.
Namun, segalanya berubah pada tahun 1833. Gubernur Jenderal Hindia Belanda, Johannes van den Bosch, menantang alam. Di bawah perintahnya, para pekerja dipaksa membelah bukit batu demi membuka akses transportasi yang menghubungkan pesisir barat (Padang) menuju pedalaman dataran tinggi Minangkabau yang kaya hasil bumi.
Tangan dingin kolonial tak berhenti di sana. Antara tahun 1889 hingga 1892, Belanda kembali membangun mahakarya di koridor yang sama: jalur kereta api bergigi. Jalur ini sengaja dibuat untuk mengangkut “emas hitam” alias batu bara dari Sawahlunto menuju Pelabuhan Emmahaven (sekarang Teluk Bayur).
Sisa-sisa kejayaan itu masih berdiri kokoh hingga kini, berupa jembatan-jembatan tinggi dan terowongan kereta yang membelah bukit.
Silaing adalah paradoks yang indah sekaligus mendebarkan. Karena kekayaan hayati dan pesona alamnya yang magis, pemerintah kolonial bahkan menetapkan wilayah ini sebagai kawasan cagar alam sejak tahun 1922.
Bagi para pelintas modern, Silaing adalah oase. Di sinilah tempat melepas penat terbaik sembari menikmati udara perbukitan yang sejuk, ditemani kawanan monyet ekor panjang yang sesekali jenaka menampakkan diri di sisi aspal.
Namun di balik keindahannya, Silaing menyimpan catatan sejarah kelam tentang bencana. Sejak era kolonial, kawasan ini sudah terkenal rawan banjir bandang dan tanah longsor. Banjir besar di masa lalu bahkan tercatat berkali-kali menghancurkan jembatan dan rel kereta api yang dibangun susah payah oleh Belanda.
Kini, di pertengahan tahun 2026, alam kembali mengingatkan manusia akan kekuatannya. Silaing, sang urat nadi ekonomi yang mempertemukan hasil bumi perbukitan dengan komoditas pesisir, harus beristirahat sejenak akibat pelukan longsor.
Pihak kepolisian mengimbau keras para pengendara untuk mencari rute alternatif via Malalak atau Solok sembari menunggu tim gabungan menjinakkan material longsor di lapangan.
Sejarah mencatat, Silaing mungkin berkali-kali lumpuh akibat bencana, namun jalur legendaris ini selalu berhasil bangkit dan kembali menjadi saksi bisu perjalanan jutaan perantau Minang dari masa ke masa. (*)










