Covesia.co.id – Sejumlah mahasiswa dari berbagai perguruan tinggi menggelar aksi demonstrasi di sekitar Gedung DPRD Sumatera Barat (Sumbar), tepatnya di kawasan Tugu Adipura, Jalan Khatib Sulaiman, Kota Padang, Selasa (27/10/2026).
Mereka menuntut pemerintah menetapkan bencana kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) sebagai bencana nasional.
Mahasiswa yang mengikuti aksi tersebut berasal dari Fakultas Hukum (FH), Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP), Fakultas Ilmu Budaya (FIB), Fakultas Pertanian (Faperta), dan Fakultas Kesehatan Masyarakat (FKM) Universitas Andalas (Unand), serta mahasiswa UIN, Universitas Bung Hatta, dan Universitas Negeri Padang (UNP).
Perwakilan mahasiswa dari Badan Eksekutif Mahasiswa Fakultas Hukum (BEM FH) Unand, Farel, mengatakan pemilihan Tugu Adipura sebagai lokasi aksi memiliki makna tersendiri.
Menurutnya, Tugu Adipura merupakan simbol kebersihan Kota Padang. Namun, kondisi lingkungan saat ini dinilai sedang tidak baik-baik saja akibat persoalan ekologis, termasuk karhutla.
“Kami memilih Tugu Adipura sebagai lokasi aksi saat ini karena merupakan simbol kebersihan, namun saat ini situasi sedang sangat tidak bersih,” ungkap Farel kepada Covesia.co.id, Selasa (27/10/2026).
Dalam orasinya, mahasiswa menyoroti persoalan krisis iklim dan karhutla yang dinilai belum ditangani secara memadai. Mereka juga menyinggung kabut asap yang disebut masih menyelimuti sejumlah wilayah di Sumatera dan pulau lainnya.
Melalui aksi tersebut, mahasiswa mendesak pemerintah mengambil langkah tegas untuk menangani karhutla. Mereka juga meminta agar bencana kabut asap ditetapkan sebagai bencana nasional.
Farel turut meminta anggota DPRD Sumbar mendengarkan aspirasi mahasiswa dan menyampaikan tuntutan tersebut kepada pihak terkait.
“Kepada para anggota DPRD Sumbar, jika masih memiliki hati nurani, dengarkan dan sampaikanlah tuntutan kami,” ujarnya.
Mahasiswa juga menyuarakan keprihatinan terhadap kerusakan hutan yang dinilai berdampak pada kehidupan masyarakat. Seruan tersebut menjadi salah satu pesan utama dalam aksi demonstrasi.
“Sepakat, hutan terbakar, rakyat terlantar,” seru perwakilan mahasiswa dalam orasinya.
Mereka menegaskan pemerintah perlu segera mengambil langkah konkret untuk mengatasi karhutla dan dampaknya terhadap lingkungan serta kesehatan masyarakat.
Aksi demonstrasi tersebut tidak berhenti pada Selasa. Fahreza menyampaikan mahasiswa berencana melanjutkan aksi pada Rabu (28/10/2026).
Terkait waktu dan lokasi aksi lanjutan, ia mengatakan informasi tersebut akan disampaikan pada Selasa malam.
“Untuk waktu dan lokasi aksi besok akan kami sampaikan malam ini,” tutupnya.










