Covesia.co.id – Kualitas udara di Sumatera Barat (Sumbar), diprediksi Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Minangkabau masih turun hingga tanggal 16 Agustus 2026.
Penurunan kualitas udara ini disebabkan fenomena Haze. Dimana udara kabur akibat partikel kering dan kelembapan tinggi di tengah minumnya curah hujan.
Kualitas udara di Sumatera Barat turun akibat adanya kiriman kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan di provinsi tetangga.
Walaupun turun, kualitas udara masih tergolong aman. Yakni diposisi sedang, atau diangka 64-67 menurut Indeks kualitas udara.
Koordinator Data dan Informasi BMKG Minangkabau, Yudha Nugraha mengatakan berdasarkan pemantauan terkini, konsentrasi PM2.5 di Sumbar berada pada kategori sedang.
Meski belum masuk kategori tidak sehat, kondisi tersebut tetap perlu mendapat perhatian masyarakat, terutama saat melakukan aktivitas di luar ruangan.
“Untuk kualitas udara dengan melihat indeks PM2.5 berada pada kategori sedang,” ujar Yudha kepada Covesia.co.id, Jumat (14/8/2026).
Penurunan kualitas udara tersebut terjadi bersamaan dengan berkurangnya jarak pandang di sejumlah wilayah.
BMKG sebelumnya menyebut kondisi berkabut dipengaruhi partikel kering berupa asap yang terbawa angin dari wilayah sekitar Sumbar.
Pergerakan asap tersebut dipengaruhi kondisi atmosfer dan arah angin sehingga kualitas udara di suatu daerah dapat terdampak meskipun sumber asap berada di wilayah lain.
Sementara berdasarkan pantauan satelit BMKG Sumbar, tidak terdeteksi titik panas atau hotspot di wilayah Sumbar pada saat pemantauan dilakukan.
“Untuk hotspot di Sumbar tidak terdeteksi berdasarkan pantauan satelit teraktual,” kata Yudha.
Namun, data hotspot bersifat dinamis dan dapat berubah sesuai waktu pengamatan serta instrumen satelit yang digunakan.
Data BMKG Stasiun Pekanbaru pada Jumat (14/8/2026), misalnya, mencatat ratusan titik panas tersebar di Pulau Sumatera, dengan sejumlah titik berada di provinsi yang berdekatan dengan Sumbar.
Kondisi tersebut menjadi salah satu faktor yang perlu diperhatikan dalam melihat potensi sebaran asap antar daerah.
Di tengah kondisi udara yang menurun, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Sumbar meningkatkan kesiapsiagaan menghadapi potensi kebakaran hutan dan lahan (karhutla).
Langkah tersebut dilakukan untuk mengantisipasi munculnya titik api maupun meluasnya kebakaran, khususnya di kawasan yang memiliki lahan gambut.
Kepala Pelaksana BPBD Sumbar, Era Sukma Munaf, mengatakan pihaknya bersama pemerintah daerah dan instansi terkait terus memperkuat pemantauan serta kesiapsiagaan di wilayah rawan.
“Kami mengimbau masyarakat agar tidak melakukan pembakaran hutan maupun lahan dengan alasan apa pun. BPBD Sumbar bersama pemerintah daerah telah melakukan berbagai persiapan matang dalam menghadapi potensi bencana karhutla ini,” ujar Era Sukma, Kamis (13/8/2026).
Berdasarkan pemantauan BPBD, sejumlah wilayah menjadi perhatian, di antaranya Kecamatan Silaut, Kabupaten Pesisir Selatan, dan Kabupaten Pasaman Barat. Kawasan tersebut memiliki lahan gambut yang relatif mudah terbakar dan sulit dipadamkan apabila api telah menjalar ke lapisan bawah permukaan tanah.
Selain ancaman karhutla, pemerintah juga mewaspadai dampak penurunan kualitas udara terhadap kesehatan masyarakat. Karena itu, warga diminta mengurangi aktivitas di luar ruangan selama kualitas udara masih berada pada kategori sedang.
“Kualitas udara Provinsi Sumbar menurun dari kategori baik menjadi sedang. Kami mengimbau masyarakat mengurangi aktivitas di luar rumah. Apabila memang harus beraktivitas di luar, pastikan selalu menggunakan masker,” kata Era.
Masyarakat juga diminta tidak melakukan pembakaran terbuka dan segera melaporkan apabila menemukan titik api atau aktivitas pembakaran lahan. Deteksi dan penanganan sejak dini dinilai penting untuk mencegah kebakaran berkembang menjadi lebih luas.
Kondisi ini menjadi pengingat bahwa kualitas udara tidak hanya dipengaruhi oleh aktivitas di dalam suatu wilayah. Asap dari kebakaran di daerah lain dapat terbawa angin dan memengaruhi wilayah sekitarnya.
Karena itu, pemantauan kualitas udara, perkembangan hotspot, kondisi cuaca, serta arah angin perlu dilakukan secara berkelanjutan. (*)










