Covesia.co.id – Aksi unjuk rasa mahasiswa di Kota Padang, Sumatera Barat, berlanjut pada Rabu (28/10/2026). Bertepatan dengan peringatan Hari Sumpah Pemuda ke-98, mahasiswa kembali mendesak pemerintah menetapkan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) sebagai bencana nasional.
Massa mahasiswa terpantau memadati kawasan Ulak Karang Utara, Kecamatan Padang Utara, Kota Padang. Aksi tersebut merupakan lanjutan demonstrasi pada Selasa (27/10/2026) yang menyoroti dampak karhutla terhadap lingkungan dan kesehatan masyarakat.
Pada aksi hari kedua ini, tuntutan mahasiswa tidak hanya berkaitan dengan penanganan karhutla. Mereka juga menyampaikan kritik terhadap sejumlah kebijakan pemerintah yang dinilai belum menjawab persoalan masyarakat.
Kritik tersebut dituangkan melalui sejumlah spanduk yang dibawa massa.
Di antaranya bertuliskan “Turunkan Prabowo-Gibran” dan “Hentikan Program MBG dan KDMP”.
Selain itu, terdapat spanduk bertuliskan
“Mana Ijazah SMA Wapres” yang menyinggung persoalan ijazah Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka.
Dalam orasinya, salah seorang perwakilan mahasiswa, Tiara, mengatakan momentum Hari Sumpah Pemuda menjadi kesempatan bagi generasi muda untuk menyampaikan keresahan dan aspirasi terhadap kondisi bangsa.
Menurutnya, pemerintah perlu menunjukkan tindakan nyata dalam merespons berbagai persoalan yang dihadapi masyarakat, termasuk penanganan karhutla.
Ia juga menilai pejabat negara semestinya memberikan teladan yang baik bagi generasi muda, terutama dalam menyikapi persoalan publik dan menjalankan tanggung jawab.
“Kami butuh contoh baik dari pejabat negara,” ujar Tiara dalam orasinya, Rabu (28/10/2026).
Tiara menegaskan, mahasiswa turun ke jalan untuk menyuarakan tuntutan agar aspirasi masyarakat didengar dan mendapat respons dari pemerintah.
Ia mempertanyakan kepada siapa masyarakat harus menyampaikan keluhan apabila pejabat negara tidak merespons persoalan yang mereka hadapi.
“Jika pejabat tidak menyampaikan? Kepada siapa kami mengadu,” katanya.
Melalui aksi tersebut, mahasiswa kembali meminta pemerintah mengambil langkah konkret dalam menangani karhutla serta merespons berbagai kritik dan tuntutan yang mereka sampaikan.
Peringatan Hari Sumpah Pemuda tahun ini pun menjadi momentum bagi mahasiswa untuk menegaskan peran generasi muda dalam menyampaikan aspirasi dan mengawasi kebijakan pemerintah.










