Covesia.co.id – Sungai Batang Tumayo di Nagari Sungai Batang, Kecamatan Tanjung Raya, Kabupaten Agam, Sumatera Barat, meluap hingga ke badan jalan pada Kamis (8/10/2026) malam.
Pendangkalan sungai akibat tumpukan material sisa bencana serta kerusakan bronjong pengaman diduga menjadi penyebab aliran air keluar dari jalurnya.
Kepala Bidang Kedaruratan dan Logistik BPBD Agam, Abdul Gafur, mengatakan ketinggian air yang meluap ke jalan mencapai mata kaki.
Informasi kejadian tersebut diterima Pusat Pengendalian Operasi Penanggulangan Bencana (Pusdalops-PB) BPBD Agam dari Sekretaris Nagari Sungai Batang.
“Pendangkalan sungai terjadi karena tumpukan material yang terbawa arus dari beberapa kejadian sebelumnya. Beberapa bronjong kawat juga rusak dan tertutup material,” kata Gafur saat dihubungi Covesia, Jumat (9/10/2026).
Menurutnya, kondisi alur sungai yang mengalami pendangkalan membuat aliran air tidak tertampung secara optimal ketika debit meningkat.
Kerusakan bronjong juga menjadi persoalan karena struktur tersebut berfungsi melindungi tebing dan membantu menjaga aliran sungai.
Berdasarkan laporan yang diterima BPBD Agam, hingga Jumat belum ada laporan dari masyarakat kepada pemerintah nagari mengenai luapan air yang masuk ke permukiman warga.
Meski demikian, kondisi tersebut tetap menjadi perhatian karena Nagari Sungai Batang berulang kali terdampak luapan sungai ketika hujan deras mengguyur kawasan Kecamatan Tanjung Raya.
Sebelumnya, hujan deras pada 4 Oktober 2026 juga menyebabkan Batang Tumayo kembali meluap dan merusak bronjong pengaman. Kondisi ini menambah kekhawatiran terhadap potensi banjir susulan di kawasan tersebut.
Persoalan pendangkalan sungai berkaitan dengan tumpukan material yang terbawa saat bencana hidrometeorologi sebelumnya.
Material yang mengendap di alur sungai mengurangi kapasitas tampung, sedangkan bronjong yang rusak membuat perlindungan tebing tidak lagi optimal.
Dalam laporan sebelumnya, pendangkalan Batang Tumayo pascabencana membuat air lebih mudah melimpah ke permukiman ketika hujan berintensitas tinggi.
Pemerintah nagari telah mendorong percepatan normalisasi sungai untuk mengurangi risiko banjir berulang. (*)










