Covesia.co.id — Ancaman Amerika Serikat untuk mempertahankan blokade terhadap Selat Hormuz tanpa batas waktu langsung mengguncang pasar energi global.
Harga minyak mentah dunia kembali naik pada Jumat (14/8/2026) di tengah kekhawatiran gangguan pasokan dari kawasan Timur Tengah.
Harga minyak mentah Brent naik 1,64 persen atau US$1,43 menjadi US$88,50 per barel. Sementara minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) Amerika Serikat menguat 1,92 persen atau US$1,56 menjadi US$82,81 per barel.
Kenaikan harga tersebut terjadi setelah Washington menyatakan blokade laut terhadap Iran dapat dipertahankan dalam waktu yang tidak ditentukan.
Langkah itu meningkatkan kekhawatiran pelaku pasar terhadap kelancaran distribusi minyak dan gas melalui Selat Hormuz.
Selat Hormuz merupakan salah satu jalur perdagangan energi paling penting di dunia. Sebelum konflik terbaru, sekitar seperlima pasokan minyak dan gas alam cair (LNG) global setiap hari melewati jalur perairan yang berada di antara Iran dan Oman tersebut.
Ancaman blokade membuat aktivitas pelayaran di kawasan itu menjadi perhatian utama pasar.
Data perusahaan analisis pelayaran Kpler menunjukkan hanya sembilan kapal komoditas yang melintasi Selat Hormuz pada Kamis (13/8/2026).
Angka tersebut memang meningkat dari lima kapal sehari sebelumnya, tetapi masih berada di bawah rata-rata 12 kapal per hari selama Agustus.
Menteri Keuangan AS Scott Bessent mengatakan Washington tengah menyiapkan tekanan ekonomi yang lebih besar terhadap Iran, bersamaan dengan kelanjutan blokade di Selat Hormuz.
“Kami akan menerapkan langkah-langkah yang belum pernah terlihat dalam sejarah isolasi ekonomi terhadap suatu negara,” kata Bessent dalam wawancara dengan Newsmax.
Menurut Bessent, tekanan ekonomi tersebut akan berjalan bersamaan dengan operasi blokade.
“Ini akan menjadi kombinasi isolasi ekonomi yang belum pernah dilihat dunia sebelumnya, serta kelanjutan blokade di Selat Hormuz,” ujarnya.
Pernyataan tersebut memperkuat kekhawatiran bahwa gangguan di jalur pelayaran strategis itu tidak hanya bersifat sementara.
Kekhawatiran pasar juga meningkat setelah dua kapal milik perusahaan minyak negara Uni Emirat Arab, Abu Dhabi National Oil Company (ADNOC), dilaporkan diserang ketika melintasi Selat Hormuz pada Kamis. Tidak ada korban jiwa dalam insiden tersebut.
Uni Emirat Arab menuduh Iran berada di balik serangan tersebut. Insiden itu menambah tekanan terhadap aktivitas pelayaran di kawasan yang menjadi jalur utama pengiriman energi dunia.
Dampak gangguan tersebut terlihat dari perubahan drastis volume minyak yang melintasi Selat Hormuz.
Data U.S. Energy Information Administration (EIA) menunjukkan volume minyak mentah dan produk minyak yang melewati selat tersebut rata-rata hanya sekitar 4,9 juta barel per hari pada kuartal II 2026.
Angka itu jauh lebih rendah dibandingkan rata-rata 21,6 juta barel per hari pada kuartal IV 2025, sebelum konflik meningkat.
EIA memperkirakan harga minyak Brent rata-rata berada di sekitar US$85 per barel pada kuartal III 2026. Jika lalu lintas kapal melalui Selat Hormuz kembali normal dan produksi yang sempat terhenti dapat dipulihkan, harga diperkirakan turun menuju rata-rata US$78 per barel pada kuartal IV.
International Energy Agency (IEA) memperkirakan pasokan minyak dunia turun sekitar 4,3 juta barel per hari pada 2026 atau sekitar 4 persen. Pasokan global diproyeksikan berada di sekitar 102,02 juta barel per hari.
IEA bahkan memperkirakan pasar minyak dunia mengalami defisit sekitar 1,27 juta barel per hari sepanjang 2026. Untuk periode Juli hingga September, defisit diperkirakan mencapai 1,8 juta barel per hari.
Produksi minyak di kawasan Timur Tengah pada Juli juga masih 8,3 juta barel per hari di bawah tingkat sebelum perang. Kondisi tersebut menunjukkan bahwa pemulihan produksi belum sepenuhnya berlangsung.
Analis energi SEB Research Bjarne Schieldrop menilai ancaman blokade membuat prospek normalisasi arus pelayaran di Selat Hormuz semakin tidak pasti.
“Kembalinya arus normal melalui Selat Hormuz kini tiba-tiba tanpa harapan dalam waktu dekat,” kata Schieldrop kepada Reuters.
Meski demikian, tidak semua faktor mengarah pada kenaikan harga minyak. Kondisi permintaan dan persediaan masih dapat menahan laju kenaikan.
Norbert Rucker, Kepala Ekonomi dan Next Generation Research di Julius Baer, mengatakan kondisi penyimpanan minyak yang lebih kuat dari perkiraan dapat menjadi faktor penekan harga.
“Penyimpanan minyak bertahan jauh lebih baik dari yang dikhawatirkan, yang seharusnya mendorong harga minyak turun,” ujar Rucker.
IEA juga memperkirakan permintaan minyak global akan mengalami kontraksi sekitar 1,6 juta barel per hari pada 2026. Sementara OPEC masih memperkirakan permintaan global tumbuh sekitar 580.000 barel per hari tahun ini.
Perbedaan antara ancaman gangguan pasokan dan melemahnya permintaan membuat pasar minyak kini berada dalam situasi penuh ketidakpastian. Namun, untuk sementara, ancaman blokade Selat Hormuz menjadi faktor utama yang mendorong harga minyak kembali menguat.
Jika blokade berlangsung berkepanjangan, gangguan terhadap jalur distribusi energi berpotensi memperbesar tekanan terhadap pasokan global dan menjaga harga minyak tetap tinggi.
Sebaliknya, apabila lalu lintas pelayaran kembali normal dan produksi minyak yang sempat terhenti dapat dipulihkan, tekanan terhadap harga diperkirakan berangsur mereda.
Pasar kini menunggu perkembangan selanjutnya dari Washington dan Teheran. Setiap perubahan terkait blokade Selat Hormuz berpotensi langsung memengaruhi harga minyak dunia, mengingat besarnya peran jalur tersebut dalam perdagangan energi global. (*)










