Covesia.co.id – Sore perlahan turun di kawasan Pasir Jambak, Kota Padang. Angin sepoi-sepoi berembus di antara pepohonan, sementara permukaan kolam dipenuhi hamparan hijau yang dihiasi ratusan bunga putih.
Bunga enceng gondok tengah bermekaran. Kelopak-kelopak putih muncul di antara daun hijau, menciptakan pemandangan sederhana yang justru memikat mata.
Di tepian kolam, pengunjung duduk santai. Sebagian berbincang, menikmati hembusan angin, sementara lainnya sibuk mengabadikan hamparan bunga dengan kamera telepon genggam.
Ada pula yang sengaja bertahan hingga petang, menunggu matahari perlahan turun di ufuk barat.
Taman Enceng Gondok di kawasan Pasir Jambak pun menjadi ruang sederhana untuk melepas penat. Tanaman air yang selama ini mungkin dipandang biasa, kini berubah menjadi daya tarik setelah hamparannya ramai diperbincangkan di media sosial.
Datang dari Lima Puluh Kota
Salah seorang pengunjung, Muhammad Ansor, sengaja datang dari Lima Puluh Kota. Ia penasaran ingin menyaksikan langsung hamparan enceng gondok yang tengah ramai di media sosial.
“Memang sengaja datang ke sini karena melihat bunga enceng gondok ini ramai di media sosial. Penasaran seperti apa aslinya,” kata Ansor.
Menurutnya, pemandangan di lokasi terasa lebih menarik ketika dilihat secara langsung. Terlebih, ia datang ketika matahari mulai condong dan udara terasa lebih teduh.
“Bagus sekali. Bunganya banyak dan putih semua. Ditambah anginnya sepoi-sepoi, jadi enak duduk santai di sini,” ujarnya.
Ansor tak sekadar ingin melihat hamparan bunga. Ia juga ingin menikmati suasana hingga matahari terbenam.
“Kalau bisa sampai matahari terbenam. Suasananya pasti lebih bagus,” katanya.
Senang Menikmati Suasana
Kesan serupa disampaikan Raisa, pengunjung yang datang dari kawasan Air Tawar, Kota Padang. Ia mengaku senang bisa menikmati suasana Taman Enceng Gondok yang dipenuhi bunga putih tersebut.
Raisa mengatakan pemandangan yang tersaji membuat kunjungannya terasa menyenangkan. Selain menikmati mekarnya bunga, ia juga dapat bersantai sembari merasakan udara sore di kawasan Pasir Jambak.
“Senang sekali bisa datang ke sini. Pemandangannya bagus, apalagi bunga enceng gondoknya sedang banyak yang mekar,” ujar Raisa.
Menurutnya, keberadaan hamparan bunga tersebut membuat suasana sore terasa berbeda. Ia pun mengabadikan momen kunjungannya dengan kamera telepon genggam.
Sebulan Viral, Pengunjung Capai 200 Orang per Hari
Pengelola Taman Enceng Gondok, Zailul Ikhlas yang akrab disapa Izul, mengatakan mekarnya enceng gondok menjadi daya tarik tersendiri bagi kawasan tersebut.
Menurut Zailul, hamparan bunga enceng gondok mulai viral di media sosial sejak sekitar sebulan terakhir. Sejak saat itu, jumlah pengunjung meningkat dan datang silih berganti dari pagi hingga sore.
“Sudah sekitar sebulan belakangan ini viral. Dalam sehari pengunjung bisa lebih dari 200 orang, mulai dari pagi sampai sore,” ujar Zailul.
Ia mengatakan pengunjung tidak hanya berasal dari sekitar Kota Padang. Sebagian datang dari luar daerah dan sengaja meluangkan waktu untuk melihat langsung hamparan bunga tersebut.
“Banyak yang datang untuk foto-foto. Ada yang datang bersama keluarga, ada juga rombongan,” katanya.
Bagi Zailul, mekarnya bunga enceng gondok memberikan warna baru bagi kawasan Pasir Jambak. Keindahan yang tumbuh secara alami itu menjadi magnet bagi mereka yang ingin menikmati suasana berbeda.
Menunggu Matahari Pulang
Menjelang petang, cahaya matahari menyentuh hamparan bunga putih. Hijau daun dan putih kelopak tampak semakin jelas dari kejauhan.
Suara percakapan pengunjung berpadu dengan hembusan angin. Beberapa masih sibuk mengambil gambar, sementara lainnya memilih duduk diam menikmati pemandangan.
Tak ada kemewahan yang diperlukan untuk menikmati sore itu.
Cukup hamparan bunga putih, pepohonan, angin yang berembus pelan, dan matahari yang perlahan bergerak menuju ufuk.
Di Taman Enceng Gondok Pasir Jambak, bunga yang tumbuh di atas air itu untuk sementara menjadi alasan banyak orang berhenti dari kesibukan.
Sekadar menikmati sore, mengabadikan keindahan, dan menunggu matahari benar-benar pulang. (*)










