Menu

Mode Gelap
Pagi Ini Kualitas Udara Padang Kembali Berbahaya, ISPU Tembus 440 Komplotan Curanmor Di Kota Padang Dibekuk, Polisi Ungkap Puluhan TKP Karhutla di Sumatera Mulai Mereda, Hotspot Turun Hingga 43 Persen Pemancing Dilaporkan Jatuh di Tebing Laut Kawasan Bukit Lampu Harga Emas Minggu 13 September 2026 Stabil, Antam Rp2,644 Juta per Gram Indonesia Terkepung Bencana

News

Bukan Sekadar Julukan, Begini Orang Minang Menggambarkan Sosok Sumando

Hajrafiv Satya Nugrahabadge-check

Bukan Sekadar Julukan, Begini Orang Minang Menggambarkan Sosok Sumando Perbesar

Covesia.co.id — Dalam masyarakat Minangkabau, laki-laki yang telah menikah memiliki posisi sosial yang unik.

Ia tidak hanya menjadi suami bagi istrinya, tetapi juga masuk ke dalam lingkungan keluarga istrinya sebagai urang sumando.

Istilah sumando hingga kini masih cukup akrab di tengah masyarakat Minangkabau.

Menariknya, dalam adat dan kehidupan sosial masyarakat Minang, terdapat berbagai istilah yang digunakan untuk menggambarkan perangai seorang sumando.

Sebagian julukan memiliki makna positif. Sebagian lainnya justru bernada sindiran.

Namun, istilah tersebut tidak semata-mata digunakan untuk mengejek. Di dalamnya terdapat pesan sosial tentang bagaimana seorang laki-laki seharusnya bersikap setelah menjadi bagian dari keluarga istrinya.

Hal ini tidak terlepas dari sistem kekerabatan Minangkabau yang menganut garis keturunan matrilineal.

Dalam sistem tersebut, hubungan keturunan ditarik melalui garis ibu. Karena itu, setelah menikah, seorang laki-laki berada dalam posisi sebagai sumando di lingkungan keluarga istrinya.

Dalam kajian mengenai Uang Japuik dalam Adat Perkawinan Padang Pariaman, sejumlah istilah sumando digunakan untuk menggambarkan karakter dan perilaku seorang menantu.

Julukan tersebut menjadi salah satu bentuk bahasa sosial yang berkembang di tengah masyarakat.

Salah satunya adalah sumando ninik mamak. Sebutan ini menggambarkan sosok sumando yang dianggap baik dan mampu menempatkan diri di tengah keluarga istrinya.

Sumando dengan karakter tersebut dinilai mampu menjaga hubungan baik, bertanggung jawab terhadap keluarganya, serta memahami batas dan kedudukannya dalam lingkungan keluarga besar istrinya.

Namun, tidak semua istilah sumando memiliki makna positif.

Ada sumando kacang miang, sebutan yang bernada sindiran untuk menggambarkan menantu yang dianggap suka menghasut, memprovokasi, atau memicu pertengkaran di tengah keluarga.

Kemudian terdapat istilah sumando kutu dapua. Istilah ini ditujukan kepada menantu yang dinilai malas bekerja dan lebih banyak menghabiskan waktu di rumah, tetapi tidak menjalankan tanggung jawab sebagaimana mestinya.

Ada pula sumando lapiak buruak. Sebutan tersebut digunakan untuk menggambarkan laki-laki yang dianggap terlalu takut atau tunduk kepada istrinya.

Sementara itu, istilah sumando langau hijau digunakan untuk menyindir sosok menantu yang keberadaannya dinilai justru menimbulkan keresahan atau persoalan di lingkungan keluarga istrinya.

Berbagai istilah tersebut memperlihatkan bahwa masyarakat Minangkabau memiliki cara tersendiri dalam menyampaikan penilaian terhadap perilaku seseorang.

Kritik tidak selalu disampaikan melalui teguran secara langsung. Dalam situasi tertentu, sebuah julukan dapat menjadi bentuk sindiran yang sekaligus berfungsi sebagai kontrol sosial.

Seorang sumando diharapkan mampu menjaga sikap, menghormati keluarga istrinya, bertanggung jawab terhadap rumah tangga, serta menjaga nama baik keluarga.

Dalam pandangan sosial masyarakat Minangkabau, posisi sumando juga memiliki karakter yang khas. Ia dihormati sebagai menantu, tetapi bukan berarti bebas dari tuntutan untuk menjaga perilaku.

Karena itu, berbagai istilah sumando tersebut pada dasarnya menggambarkan harapan masyarakat terhadap seorang laki-laki setelah menikah.

Ia diharapkan tidak hanya mampu menjalankan perannya sebagai suami, tetapi juga bisa menempatkan diri di tengah keluarga besar istrinya.

Seiring perubahan zaman, penggunaan istilah-istilah tersebut memang tidak selalu sekuat dahulu.

Namun, sejumlah istilah masih dapat ditemukan dalam percakapan masyarakat Minang, baik sebagai candaan, sindiran maupun bagian dari pembicaraan mengenai adat.

Di balik istilah yang terdengar sederhana itu tersimpan nilai sosial yang cukup kuat. Masyarakat tidak hanya menilai seorang laki-laki dari statusnya sebagai suami, tetapi juga dari cara ia membawa diri ketika menjadi bagian dari keluarga istrinya.

Dengan demikian, urang sumando bukan sekadar sebutan bagi laki-laki yang telah menikah. Ia merupakan posisi sosial yang memiliki aturan tidak tertulis tentang sikap, tanggung jawab dan cara menjaga hubungan dengan keluarga besar.

Sebab dalam adat Minangkabau, menjadi sumando bukan hanya soal menikahi seorang perempuan.

Ada peran sosial yang ikut melekat setelah pernikahan berlangsung—bagaimana menghormati keluarga istri, menjaga rumah tangga dan, yang tak kalah penting, menjaga nama baik keluarga tempat ia menjadi sumando. (*)

Facebook Comments Box

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Belum ada komentar disini
Jadilah yang pertama berkomentar disini
Kabar lainnya

Komplotan Curanmor Di Kota Padang Dibekuk, Polisi Ungkap Puluhan TKP

14 September 2026 - 10:28 WIB

Pemancing Dilaporkan Jatuh di Tebing Laut Kawasan Bukit Lampu

13 September 2026 - 09:55 WIB

Daftar 31 SPBU ‘ Nakal’ di Sumbar yang Disanksi Tegas Pertamina

12 September 2026 - 12:39 WIB

BMKG Peringatkan Potensi Bencana Hidrometeorologi di Sumatera Barat

12 September 2026 - 11:27 WIB

Tak Kuat Menanjak di Sitinjau Lauik, Pikap Hantam Truk hingga Masuk Jurang

12 September 2026 - 10:04 WIB

Trending Topik News