Covesia.co.id — Kualitas udara di sejumlah wilayah Sumatera Barat terus memburuk dalam beberapa hari terakhir.
Pemantauan IQAir menunjukkan sejumlah daerah berada pada kategori tidak sehat. Sementara kabut asap dari kawasan Sumatera bagian tengah masih berpotensi memengaruhi kualitas udara di Sumbar.
Berdasarkan pemantauan IQAir pada 26 Agustus 2026, terdapat tiga daerah yang kualitas udaranya sudah tidak sehat. Yakni Payakumbuh dan Batusangkar dengan Indeks kualitas Udara atau AQI diangka 154. Kemudian Solok diangka 152.
Sementara Bukittinggi mencatat AQI 125, Padang 109, dan Parit Malintang, Kabupaten Padang Pariaman, sekitar 120. Ketiganya masuk kategori tidak sehat bagi kelompok sensitif.
Wilayah lainnya relatif lebih baik. Sijunjung sempat berada pada kategori sedang, meski dalam pemantauan sebelumnya AQI mencapai 138. Matur, Kabupaten Agam, berada di sekitar AQI 93, sedangkan Tuapejat, Kepulauan Mentawai, sekitar 81. Air Bangis, Pasaman Barat, juga tercatat dalam kategori sedang.
Pemetaan sementara kualitas udara Sumbar berdasarkan data IQAir menunjukkan:
Payakumbuh: AQI 154 — tidak sehat.
Batusangkar: AQI 154 — tidak sehat.
Solok: AQI 152 — tidak sehat.
Bukittinggi: AQI 125 — tidak sehat bagi kelompok sensitif.
Parit Malintang: AQI sekitar 120 — tidak sehat bagi kelompok sensitif.
Padang: AQI 109 — tidak sehat bagi kelompok sensitif.
Sijunjung: kategori sedang pada pembaruan terakhir, tetapi sempat mencapai AQI 138.
Matur, Agam: AQI sekitar 93 — sedang.
Tuapejat: AQI sekitar 81 — sedang.
Air Bangis, Pasaman Barat: kategori sedang.
Di tengah memburuknya kualitas udara Sumbar, perhatian mengarah ke aktivitas kebakaran hutan dan lahan di sejumlah provinsi tetangga, terutama Riau dan Jambi.
Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) sebelumnya mendeteksi sebaran asap di sejumlah wilayah Sumatra, termasuk Riau dan Jambi.
Pada Kamis (27/8/2026), tercatat penurunan jumlah titik hotspot yang signifikan di Riau yakni sebanyak 69 titik. Dimana tanggal 26 Agustus 2026 tercatat 223 titik hotspot.
Penyebaran 69 titik hotspot tersebut berada di Indragiri Hili sebanyak 22 titik, Pelalawan 21 titik, Indragiri Hulu 16 titik, Siak 8 titik dan Kuantan Singingi 2 titik.
Penurunan jumlah titik api di Riau masih berkemungkinan an terjadi, mengingat BMKG memprediksi akan terjadi hujan sedang hingga lebat di sejumlah Wilayah Riau pada Kamis malam..
Kondisi berbeda terlihat di Jambi. Berdasarkan pemantauan BMKG yang dikutip pada 27 Agustus 2026,masih terdapat 51 hotspot.
Jumlah ini memang jauh lebih rendah dibanding catatan harian sebelumnya, tetapi menunjukkan sumber potensi karhutla di kawasan Sumatra bagian tengah belum sepenuhnya hilang.
Sebelumnya, Posko Satgas Karhutla Jambi mencatat 134 hotspot pada 25 Agustus, turun dari 348 titik pada 24 Agustus. Pada 26 Agustus, laporan lain dari Posko Satgas mencatat 42 hotspot dalam periode pemantauan 00.00–16.00 WIB.
Kabupaten Sarolangun menjadi salah satu wilayah yang paling banyak menyumbang hotspot di Jambi. Data kumulatif hingga 26 Agustus menunjukkan Sarolangun mencapai 1.188 hotspot, disusul Tanjung Jabung Barat 884 titik dan Muaro Jambi 740 titik.
Faktor cuaca menjadi bagian penting dalam perkembangan karhutla tersebut. BMKG menyatakan kondisi Indonesia saat ini masih dipengaruhi El Niño kategori sangat kuat dan Indian Ocean Dipole (IOD) positif.
Kondisi tersebut membuat sebagian besar wilayah Indonesia cenderung lebih kering dan meningkatkan kerentanan terhadap kekeringan serta kebakaran hutan dan lahan.
Meski demikian, hujan belum sepenuhnya menghilang. BMKG memperkirakan periode 25–27 Agustus masih terdapat potensi hujan ringan hingga sedang di sejumlah wilayah, termasuk Sumatera Barat dan Jambi.
BMKG sebelumnya juga mencatat angin di kawasan Riau bergerak dari tenggara hingga selatan dengan kecepatan sekitar 10–30 kilometer per jam.
Pergerakan angin menjadi salah satu faktor yang perlu diperhatikan dalam melihat potensi penyebaran asap antarwilayah. (*)











