Covesia.co.id – Dunia pendidikan Kota Padang dikagetkan dengan adanya dugaan pembullyan di lingkungan SD Negeri 33 Rawang.
Kejadian diduga terjadi pada Senin (20/7/2026) dan korban yang berinisial NH (10), meninggal dunia pada Kamis (23/7/2026).
Namun dugaan pembullyan ini dibantah oleh kepala sekolah SD Negeri 33 Rawang Siptah Hayadi ketika dikonfirmasi Covesia.co.id melalui seluler pada, Sabtu (24/7/2026).
“Soal meninggalnya siswi kami NH, informasi itu saya sudah tahu. Namun soal adanya pembullyan, saya membantah. Karena setelah ditelusuri dari keterangan orang tua NH, tidak sesuai dengan keterangan para guru dan situasi lapangan di sekolah, ” kata Siptah.
Disampaikan Siptah, informasi adanya pembullyan baru diketahui pada Kamis malam, saat beberapa guru SD Negeri 33 Rawang melayat ke kediaman NH di jalan Sutan Syahrir no 342, Kecamatan Padang Selatan. Saat itu pihak keluarga menyampaikan adanya dugaan bully terhadap NH pada hari Senin lalu.
“Jadi sesaat siswi NH meninggal dunia, ada beberapa guru datang ke rumah duka. Disana baru diketahui adanya dugaan bully terhadap NH. Kemudian guru tersebut melapor hal kepada saya, ” katanya.
Kemudian dirinya datang ke rumah duka pasa Jumat (24/7/2026) dan bertemu orang tua NH.
Dari situ didapati beberapa keterangan dari orang tua NH perihal dugaan pembullyan.
Siptah pun langsung menelusuri informasi yang disampaikan oleh orang tua NH. Namun dari keterangan tersebut ada beberapa kejanggalan.
Dimana pada hari Senin tersebut, NH memang masuk sekolah dan belajar dengan siswa lain di kelas. Sampai pulang sekolah, kondisi NH baik-baik saja. Bahkan saat jam istirahat ada guru yang duduk didalam kelas.
“NH masuk sekolah masih baik-baik saja, sampai pulang sekolah masih ceria juga. Bahkan saat jam istirahat juga ada guru didalam kelas hari Senin itu, ” Kata Siptah lagi.
Kemudian ada dugaan pembullyan dilakukan di dalam WC sekolah. Hal inilah yang menjadi dasar bagi Siptah membantah adanya dugaan bully ini.
“Kalau didalam WC makin tidak masuk akal. Karena lorong ke WC itu menghadap ke salah satu ruangan kelas. Dindingnya juga bersatu sama kelas sebelah. Bahkan WC tidak ada pintunya. Kalau ada bully disana, pasti ada suara dan guru yang mengajar pasti terdengar ada keributan di dalam WC, ” kata Siptah.
Kemudian adanya dugaan pemukulan menggunakan sapu juga dibantah oleh Siptah. Karena didalam WC tidak ada sapu atau pun benda pembersih lainnya.
“Di WC juga tidak ada sapu. Jadi dugaan. Pembullyan baik dikelas maupun di WC tidak sesuai antara keterangan orang tua NH dengan situasi lapangan dan keterangan para guru, ” Katanya.
Sebelumnya dugaan pembullyan terjadi di SD Negeri 33 Rawang pada Senin (20/7/2026), dimana korban berinisial NH (10) jatuh sakit dan meninggal dunia pada Kamis (23/7/2026).
Orang tua NH, Wahid Al Amin mengatakan anaknya setelah pulang sekolah pada Senin tersebut sudah pucat dan kelelahan. Sejak itu pun NH berubah menjadi pendiam.
Pada keesokan harinya, Wahid baru sadar ada yang tidak beres pada anaknya karena mengeluh sakit di area pinggang. Kondisi ini terus memburuk sampai meninggal dunia.
Sebelum meninggal, NH sempat bercerita kepada orang tuanya bahwa pada Senin tersebut ia diduga mengalami pembullyan oleh dua teman yang juga siswa SD Negeri 33 Rawang. (*)










