Covesia.co.id – Ketegangan antara Arab Saudi dan kelompok Houthi di Yaman kembali meningkat tajam setelah serangkaian serangan militer dan aksi balasan yang terjadi sepanjang Juli 2026.
Konflik yang sempat mereda selama beberapa tahun kini kembali mengancam stabilitas kawasan Timur Tengah, termasuk jalur pelayaran internasional di Laut Merah.
Eskalasi terbaru bermula pada 13 Juli 2026, ketika landasan pacu Bandara Internasional Sana’a, Yaman menjadi sasaran serangan pemerintah Yaman yang dibantu Arab Saudi.
Houthi menuding Arab Saudi dan pemerintah Yaman yang diakui internasional sebagai pihak yang melancarkan serangan udara.
Pemerintah Yaman yang diakui pun angkat bicara dan mengakui serangan tersebut. Penyerangan landasan udara di Sana’a ini untuk mencegah pesawat Iran mendarat. Dikarenakan membawa pejabat Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC), penasihat militer, serta komponen rudal dan drone untuk memperkuat kemampuan tempur Houthi.
Namun tudingan ini dibantah oleh Houthi dan Iran. Kedua Sekutu ini menyebutkan pesawat hanya membawa delegasi Houthi yang pulang seusai menghadiri pemakaman Imam Besar Iran, Ali Khamenei.
Houthi Balas Serang Bandara Abha
Tidak lama setelah serangan di Sana’a, Houthi melancarkan serangan balasan menggunakan rudal balistik dan drone ke wilayah selatan Arab Saudi. Target utama adalah Bandara Internasional Abha, yang berada di dekat perbatasan Yaman.
Otoritas koalisi pimpinan Saudi menyatakan rudal berhasil dicegat sistem pertahanan udara sebelum mencapai sasaran, sehingga tidak menimbulkan kerusakan besar maupun korban jiwa.
Juru Bicara Militer Houthi, Yahya Saree, menegaskan serangan tersebut merupakan balasan langsung atas serangan terhadap Bandara Sana’a.
“Agresi terang-terangan ini mengakhiri masa deeskalasi. Arab Saudi akan menanggung konsekuensinya dan serangan ini tidak akan dibiarkan tanpa balasan,” kata Yahya Saree.
Konflik Bergeser ke Laut Merah
Ketegangan kemudian meluas ke jalur pelayaran internasional.
Pada 20 Juli 2026, Houthi mendeklarasikan blokade maritim terhadap Arab Saudi. Seluruh kapal yang berlayar menuju atau keluar dari pelabuhan Saudi diperingatkan berpotensi menjadi sasaran serangan apabila tetap melintas di kawasan Bab al-Mandeb.
Blokade tersebut memicu kekhawatiran dunia karena Bab al-Mandeb merupakan salah satu jalur perdagangan paling sibuk yang menghubungkan Laut Merah dan Teluk Aden. Sekitar 12 persen perdagangan dunia melewati kawasan tersebut.
Akibat ancaman itu, sejumlah kapal tanker minyak Saudi dilaporkan membatalkan pelayaran atau mengubah rute.
Saudi Balas dengan Serangan ke Hodeida
Sebagai respons atas blokade maritim dan ancaman terhadap kapal dagang, koalisi pimpinan Arab Saudi kembali meningkatkan operasi udara.
Pada 25 Juli 2026, sasaran serangan bergeser ke Kota Hodeida, Yaman barat, yang dikuasai Houthi.
Serangan dilaporkan menyasar fasilitas telekomunikasi militer dan infrastruktur yang diduga digunakan kelompok tersebut untuk mengendalikan operasi rudal, drone, serta komunikasi di kawasan Laut Merah.
Serangan ini menjadi bagian dari upaya membatasi kemampuan Houthi mengancam pelayaran internasional dan wilayah Arab Saudi.
Ancaman Perang Lebih Besar
Pengamat menilai konflik saat ini jauh lebih berbahaya dibanding beberapa tahun terakhir karena melibatkan kepentingan regional, termasuk Iran.
Reuters melaporkan Iran diduga meningkatkan dukungan militer kepada Houthi melalui pengiriman penasihat IRGC, teknologi rudal, drone, serta perlengkapan militer ke Yaman.
Kehadiran dukungan tersebut dinilai meningkatkan kemampuan Houthi menyerang wilayah Saudi maupun jalur pelayaran internasional.
Di sisi lain, Arab Saudi disebut semakin frustrasi karena berbagai upaya diplomasi dan gencatan senjata sejak 2022 mulai kehilangan efektivitas.
Mediasi yang dilakukan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), Oman, hingga Pakistan juga dilaporkan belum menghasilkan terobosan berarti. (*)










