Covesia.co.id – Sejak ledakan bom rakitan mengguncang salah satu ruang kelas di MAN 3 Padang pada Selasa (14/7/2026), suasana di rumah siswa berinisial R (18) berubah drastis. Rumah yang biasanya tenang kini beberapa kali didatangi aparat kepolisian. Di tengah sorotan publik, kedua orang tua R harus menghadapi kenyataan pahit yang tak pernah mereka bayangkan.
Bagi keluarga, kabar bahwa R diduga merakit sekaligus meledakkan bom rakitan di sekolah menjadi pukulan yang sangat berat. Tetangga yang mengenal keluarga itu pun menyebut kedua orang tua R masih berada dalam kondisi terguncang.
Aini (38), tetangga R, menceritakan sejak peristiwa itu terjadi, ibu R hampir tidak memiliki waktu untuk beristirahat. Ia bolak-balik dari rumah menuju Polresta Padang untuk mendampingi putranya menjalani pemeriksaan. Sementara sang ayah memilih tetap berada di rumah dalam kondisi syok setelah kediamannya didatangi banyak petugas kepolisian.
“Ayah dan ibunya sangat kaget. Ibunya sejak kemarin sibuk mendampingi R di Polresta Padang. Pulang hanya sebentar, lalu berangkat lagi. Ayahnya di rumah, tetapi masih syok karena banyak polisi yang datang,” ujar Aini kepada Covesia.co.id, Rabu (15/7/2026).
Menurut Aini, R selama ini dikenal sebagai remaja yang sopan, ramah, dan tidak pernah membuat keresahan di lingkungan tempat tinggalnya. Karena itu, kabar yang menyeret nama R dalam kasus ledakan bom rakitan membuat warga sekitar sulit mempercayainya.
“Selama ini R baik, sopan, dan ramah. Tidak ada yang terlihat aneh. Orang tuanya tentu sangat terpukul karena sama sekali tidak menyangka anaknya bisa melakukan hal seperti ini,” katanya.
Hal senada juga dirasakan warga sekitar. Mereka mengaku tidak pernah melihat perubahan perilaku yang mencolok pada diri R. Dalam kesehariannya, ia dinilai menjalani kehidupan seperti remaja pada umumnya.
“Kesehariannya sama seperti anak-anak seusianya. Kami tidak pernah melihat tanda-tanda dia mengalami perundungan atau tekanan mental,” ujar Aini.
Meski demikian, munculnya dugaan bahwa R menjadi korban perundungan (bullying) sebelum kejadian membuat warga berharap penyelidikan dilakukan secara menyeluruh. Mereka meminta aparat tidak hanya mengungkap bagaimana bom rakitan itu dibuat, tetapi juga menelusuri seluruh faktor yang diduga melatarbelakangi peristiwa tersebut.
“Kalau memang benar ada perundungan, saya berharap hal itu juga menjadi perhatian aparat. Semua pihak yang terlibat harus diperiksa berdasarkan fakta yang ditemukan,” tuturnya.
Peristiwa ini meninggalkan luka bagi banyak pihak. Tidak hanya bagi sekolah dan para siswa, tetapi juga bagi sebuah keluarga yang kini harus menghadapi kenyataan pahit ketika anak yang mereka kenal baik terseret dalam kasus yang menggemparkan. Di sisi lain, kasus ini menjadi pengingat bahwa persoalan yang dialami remaja di lingkungan sekolah perlu mendapat perhatian serius agar tidak berkembang menjadi tragedi yang lebih besar. (*)










