Covesia.co.id – Bagi masyarakat yang pernah melintas di jalur Sitinjau Lauik, akan terlihat pemuda-pemuda yang berdiri di tepi maupun tengah jalan untuk mengatur lalu lalang kendaraan.
Ya, mereka itu adalah pemuda yang tergabung dalam Perkumpulan Keluarga Jalan Raya (PKJR) Sitinjau Lauik. Kelompok yang lahir dari rasa keprihatinan akan tingginya kecelakaan yang terjadi di Sitinjau Lauik.
PKJR Sitinjau Lauik tak hanya di tanjakan ekstrem 45 derjat di Panorama 1, Lubuk Paraku saja. Mereka menyebar hingga batas Kota Padang – Kabupaten Solok. Setiap tikungan dan tanjakan curam, beberapa dari mereka stand by di sana.
Duta (46), Koordinator PKJR Panorama 1 yang juga warga Lubuk Paraku menyebutkan PKJR lahir di awal tahun 1990 karena banyak kecelakaan yang terjadi di Sitinjau Lauik. Kehadiran PKJR ini diinisiasi dari rasa kemanusiaan para pemuda Lubuk Paraku yang ingin meminimalisir angka kecelakaan di Sitinjau Lauik ini.
“PKJR ini lahir di Awal 1990. Waktu itu saya baru masuk SMP. Masih ABG yang sering keliaran dan main sambil nongkrong sama kawan-kawan yang usianya lebih tua di Sitinjau Lauik ini. Jadi waktu itu kecelakaan sudah jadi hal yang biasa. Bahkan dalam satu minggu pasti ada kecelakaan, minimal satu kali, ” Kata Duta kepada Covesia.co.id ketika di wawancarai Selasa (7/7/2026).
Dikenang Duta, jalur Sitinjau Lauik di tahun 1990-an hingga 2000-an bisa dibilang sangat tidak layak untuk dilintasi. Jalannya sempit, terjal, tak ada dinding pembatas dan penerangan. Aspalnya nya pun rapuh dan dihiasi ratusan lubang dengan berbagai ukuran. Apalagi kelayakan kendaraan saat itu juga masih jadul, yang menjadi salah satu faktor penyumbang kecelakaan.
“Sekarang sudah lumayanlah Sitinjau Lauik ini. Kalau dulu, Nauzubillah. Jalan sempit, curam, tak ada dinding pembatas, banyak lubang, ditambah lagi dulu bus maupun truk masih jadul. Setirnya keras, belum ada power stering, ” Kata Duta lagi.
Walaupun Duta tidak memungkiri hingga hari ini Sitinjau Lauik masih rawan kecelakaan. Masih ada truk yang terjun ke jurang, rem blong, tak kuat menanjak, dan lain sebagainya.
“Masih ada juga kecelakaan. Karena Sitinjau Lauik ini masih tergolong jalur Ekstrem. Tapi kami (PKJR-red) selama 24 jam, secara bergantian selalu stand by ngatur jalan. Agar pengendara tidak asal-asalan di jalur ini, ” Kata Duta
Penghargaan dan Peranan Yang Komplek
Awalnya, kehadiran PKJR mendapat sorotan negatif dari beberapa pengguna jalan. Mereka dipandang seperti Pak Ogah, yang ngatur jalan seadanya tapi mintak imbalan ke pengedara.
Di tahun 90-an, menjadi PKJR Sitinjau Lauik sedikit keras. Selain harus menghadapi kondisi lingkungan dan alam yang tak menentu, cemooh dan intimidasi kerap dialami oleh pemuda PKJR.
Namun seiring waktu, bagi mereka yang kerap mengintimidasi mulai sadar akan peran PKJR. Apalagi saat-saat krusial. Disaat kecelakaan dan longsor terjadi, PKJR menjadi orang pertama yang memberi pertolongan dan menyampaikan informasi.
“Para senior dan yang tua-tua dulu memang agak keras kehidupannya disini. Tapi lama kelamaan, kehadiran kami diterima dengan baik. Bahkan dua kali dapat penghargaan dari Kepolisian dan Pemerintah, ” Ucap Duta.
Soal imbalan, PKJR tidak pernah meminta kepada pengendara. Baik dari sopir truk, bus maupun mobil pribadi. Hanya saja kalau diberi, mereka tidak menolak. Karena dari pemberian itulah operasional dan biaya harian mereka.
“Kalau ada PKJR yang meminta paksa, mohon lapor ke posko di Panorama 1. Biar kami bina. Soalnya kami tidak pernah minta imbalan. Tapi kalau dikasih, kami terima,” Katanya.
Sekarang wajah PKJR mulai bersinar dimata masyarakat. Bahkan posko mereka dibangun dari bantuan dermawan yang peduli akan keselamatan bersama. Apalagi PKJR juga sudah diisi anak-anak muda kreatif yang lihai ber-Media sosial. Segala informasi terkait kejadian di Sitinjau Lauik disaji dengan rapi dan menarik.
PKJR Sitinjau Lauik sudah mendapat ruang dihati masyarakat. Bahkan menjelang lebaran, mulai dari pejabat, pengusaha, artis, selebgram, tokoh sengaja mampir ke posko untuk memberi bingkisan dan THR. (Bersambung)
Pewarta : Fitratul Husna dan Safira Ariel
Editor : Hajrafiv Satya Nugraha











