Prof Isril Berd: Perlu Langkah Konkret dan Komitmen Guna Mengatasi ‘Darurat’ Sampah

Covesia.co.id – Persoalan sampah di Indonesia telah mencapai titik kritis dan menjadi ancaman serius bagi lingkungan serta kesehatan masyarakat, terutama di kota-kota besar. Data terbaru dari Sistem Informasi Pengelolaan Sampah Nasional (SIPSN) Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) menunjukkan angka yang mengkhawatirkan.

Pada tahun 2024, Indonesia diestimasi menghasilkan timbulan sampah sekitar 33,79 juta ton. Angka fantastis ini didominasi oleh sampah rumah tangga yang menyumbang lebih dari separuhnya, yakni 50,8%, diikuti oleh sampah pasar sebesar 16,67%. Sementara itu, komposisi jenis sampah terbanyak adalah sisa makanan (39,36%) dan plastik (19,64%).

Timbulan sampah yang didominasi oleh sektor rumah tangga ini diperparah oleh kesadaran masyarakat yang masih sangat minim. Banyak warga yang abai dalam hal memilah bahan makanan yang berpotensi menghasilkan sampah, dan praktik membuang sampah sembarangan masih menjadi pemandangan umum.

Pengamat lingkungan sekaligus Guru Besar Universitas Gunadarma, Professor Isril Berd, mengingatkan bahwa jika masalah ini tidak disikapi secara serius, fenomena sampah akan meluas dan merembet ke berbagai aspek kehidupan, utamanya kesehatan dan lingkungan.

“Sebagai penyumbang sampah terbesar, masyarakat dituntut memiliki kesadaran tinggi guna mengurai permasalahan sampah yang saat ini sudah mulai tidak terkendali di kota-kota besar,” tegas Professor Isril Berd.

Disamping itu, Professor Berd menyoroti kondisi Tempat Pemrosesan Akhir (TPA) yang ada saat ini kian mengkhawatirkan. TPA sebagai tempat terakhir sampah dibuang semakin hari semakin besar penumpukannya. Dirinya mencontohkan salah satu TPA di Air Dingin Kota Padang yang kondisinya saat ini sudah menggunung akibat tumpukan sampah yang tidak terkelola dengan baik. Fenomena serupa tidak akan jauh berbeda dengan TPA TPA yang ada di kota kota besar di Indonesia.

“Persoalan lain sampah menumpuk di TPA Air Dingin lebih kurang 600 ton per hari dan saat ini situasinya telah menggunung. Kalau tidak disikapi secara cepat dengan solusi yang ada, maka TPA akan menjadi sebuah permasalahan baru yang berdampak serius ke masyarakat seperti kesehatan dan lingkungan,” jelasnya.

Menurutnya, peran aktif masyarakat dalam menanggulangi sampah rumah tangga menjadi vital. Namun, kesadaran ini harus diimbangi dengan langkah nyata dari pemangku kepentingan.

Untuk mengatasi masalah klasik ini, diperlukan keterlibatan semua pihak. Selain melakukan sosialisasi rutin untuk menyadarkan masyarakat, pemerintah yang memiliki otoritas juga harus konsisten menyiapkan instrumen, termasuk melakukan penindakan tegas terhadap para pelanggar.

Penindakan yang tegas ini penting untuk menciptakan kesadaran, baik bagi masyarakat, pelaku usaha, maupun perusahaan-perusahaan yang berpotensi menghasilkan sampah dalam jumlah besar.

Meskipun saat ini beberapa daerah sudah berupaya dengan membuka bank sampah dan pengelolaan, hasilnya hingga kini belum terlihat memuaskan. Oleh sebab itu, diperlukan upaya keseriusan dan langkah-langkah kongkret yang lebih serius dalam mengatasi darurat sampah nasional ini. (*)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *