Covesia.co.id – Kabut duka menyelimuti bumi Maluku Utara setelah erupsi dahsyat Gunung Dukono pada Jumat (8/5/2026) pagi memakan korban jiwa.
Tiga orang pendaki dikonfirmasi tewas setelah terjebak hujan material vulkanik di dekat bibir kawah saat gunung api aktif tersebut memuntahkan kolom abu setinggi 10 kilometer ke angkasa.Identitas korban meninggal dunia terdiri dari dua warga negara Singapura, yakni Heng Wen Qiang Timothy (30) dan Shahin Muhrez Bin Abdul Hamid (27), serta satu warga negara Indonesia asal Jayapura.
Erupsi dilaporkan terjadi mendadak pada pukul 07.41 WIT. Menurut keterangan saksi dari tim evakuasi, para korban ditemukan dalam kondisi mengenaskan di sekitar zona merah, tertimbun material abu tebal. Diduga kuat, mereka tidak sempat menyelamatkan diri saat dentuman besar terjadi yang dibarengi dengan lontaran lava pijar.
“Posisi korban berada sangat dekat dengan kawah. Aktivitas vulkanik yang sangat tinggi membuat proses evakuasi awal sempat terhambat karena risiko bagi keselamatan tim SAR,” ujar perwakilan tim SAR gabungan dalam keterangan persnya.
Tragedi ini menjadi sorotan tajam karena sebelumnya otoritas setempat dan PVMBG telah mengeluarkan peringatan keras mengenai status Level II (Waspada) Gunung Dukono. Para pendaki dilarang keras beraktivitas dalam radius 3 kilometer dari kawah aktif.
Meski demikian, rombongan yang terdiri dari total 18 pendaki ini dilaporkan tetap melakukan pendakian melalui jalur ilegal. Sebanyak 15 pendaki lainnya berhasil dievakuasi dalam kondisi selamat, meski sebagian mengalami trauma berat dan luka ringan akibat paparan panas abu vulkanik.
Hingga Minggu (10/5), jenazah kedua warga negara Singapura telah dibawa ke RSUD Tobelo untuk proses identifikasi akhir sebelum diserahkan kepada pihak Kedutaan Besar Singapura untuk proses repatriasi.
Pemerintah daerah Maluku Utara kembali mengimbau kepada seluruh wisatawan dan pecinta alam untuk tidak meremehkan peringatan dini aktivitas gunung berapi. Gunung Dukono dikenal sebagai salah satu gunung api paling aktif di Indonesia yang karakternya sulit diprediksi secara instan. (*)




