Menu

Mode Gelap
Korban TPPO di Myanmar Asal Sumbar Dipulangkan, Kini di Shelter BP3MI LBH Sumbar: Lemahnya Pengawasan Picu Pembakaran Hutan Berulang Gubernur Nonaktif Riau Abdul Wahid Divonis 2 Tahun Penjara Warga Sumbar Korban TPPO di Myanmar Berhasil Dipulangkan ke Indonesia Prabowo Resmi Naikkan Tukin TNI, Prajurit Terima Rp 2,5 Juta Perbulan Di Tengah Curah Hujan Tinggi, Ada 8 Titik Api Muncul di Sumbar

News

Karhutla Mulai Kepung Pulau Sumatera, Terbanyak di Sumsel

badge-check

Karhutla Mulai Kepung Pulau Sumatera, Terbanyak di Sumsel Perbesar

Covesia.co.id – Ancaman kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Pulau Sumatera kembali meningkat.

Berdasarkan data pemantauan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) hingga Minggu (19/7/2026) sore, terdeteksi 267 titik panas (hotspot) yang tersebar di hampir seluruh provinsi di Sumatera.

Dari total tersebut, Sumatera Selatan menjadi provinsi dengan jumlah hotspot terbanyak, yakni 90 titik.

Selanjutnya disusul Aceh 54 titik, Kepulauan Bangka Belitung 52 titik, Jambi 23 titik, Lampung 20 titik, Bengkulu 10 titik, Sumatera Barat 8 titik, Riau 6 titik, Kepulauan Riau 3 titik, dan Sumatera Utara 1 titik.

Munculnya ratusan hotspot tersebut menjadi indikator meningkatnya potensi karhutla di Pulau Sumatera. Terutama di wilayah yang tengah memasuki musim kemarau dengan curah hujan yang mulai berkurang.

Meski demikian, BMKG menegaskan bahwa hotspot bukan berarti telah terjadi kebakaran. Melainkan indikasi adanya peningkatan suhu permukaan yang perlu diverifikasi melalui pemantauan lapangan.

Di Provinsi Sumatera Barat, BMKG mendeteksi 8 titik panas yang tersebar di Kabupaten Dharmasraya, Sijunjung dan Solok.

Jumlah tersebut memang masih jauh lebih rendah dibandingkan Sumatera Selatan maupun Aceh.

Namun tetap menjadi peringatan dini bagi pemerintah daerah dan seluruh pemangku kepentingan untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi karhutla.

Keberadaan delapan hotspot di Sumatera Barat menunjukkan adanya lokasi yang mengalami suhu permukaan lebih tinggi dari kondisi normal.

Apabila kondisi cuaca kering terus berlangsung dan tidak diimbangi dengan upaya pencegahan, titik-titik panas tersebut berpotensi berkembang menjadi kebakaran hutan maupun lahan.

Data hotspot BMKG menjadi acuan penting bagi pemerintah daerah, BPBD, TNI, Polri, Manggala Agni, serta instansi terkait untuk melakukan pengecekan langsung ke lapangan.

Langkah ini diperlukan guna memastikan apakah titik panas tersebut benar-benar merupakan kebakaran atau hanya dipengaruhi faktor lain seperti aktivitas manusia maupun pantulan panas permukaan.

BMKG juga mengingatkan masyarakat agar tidak melakukan pembukaan lahan dengan cara membakar, karena api dapat dengan mudah menyebar saat vegetasi dalam kondisi kering.

Selain menimbulkan kerusakan lingkungan, karhutla juga berpotensi memicu kabut asap yang mengganggu kesehatan, aktivitas masyarakat, serta transportasi. (*)

Facebook Comments Box

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Belum ada komentar disini
Jadilah yang pertama berkomentar disini
Kabar lainnya

Korban TPPO di Myanmar Asal Sumbar Dipulangkan, Kini di Shelter BP3MI

30 Juli 2026 - 21:17 WIB

LBH Sumbar: Lemahnya Pengawasan Picu Pembakaran Hutan Berulang

30 Juli 2026 - 18:53 WIB

Gubernur Nonaktif Riau Abdul Wahid Divonis 2 Tahun Penjara

30 Juli 2026 - 15:24 WIB

Warga Sumbar Korban TPPO di Myanmar Berhasil Dipulangkan ke Indonesia

30 Juli 2026 - 15:01 WIB

Prabowo Resmi Naikkan Tukin TNI, Prajurit Terima Rp 2,5 Juta Perbulan

30 Juli 2026 - 13:54 WIB

Trending Topik News