Covesia.co.id – Karakteristik bentang alam Sumatera Barat yang didominasi Pegunungan Bukit Barisan menjadikan wilayah ini sangat rentan terhadap bencana banjir.
Sekitar 70 persen atau lebih bentang alam Sumbar merupakan daerah berlereng curam hingga sangat curam, dengan garis landaian sungai menuju pantai yang sangat pendek, yakni hanya sekitar 10 km.
“Di Padang sendiri landaian pantainya tidak panjang, kurang dari 10 km. Jika dari lereng Bukit Barisan terjadi hujan intensitas tinggi dan durasinya cukup lama, air dapat dengan cepat sampai ke pemukiman warga,” terang Pakar DAS Padang, Isril Berd kepada Covesia.co.id, Selasa (13/10).
Berdasarkan kondisi hidrologi dan bentang alamnya, Isril memetakan sedikitnya ada tiga daerah di Sumatera Barat yang berada dalam kondisi rapuh dan berpotensi tinggi dilanda banjir besar saat hujan lebat, yakni: Kabupaten Agam, khususnya di Nagari Sungai Batang, Kabupaten Pesisir Selatan: Khususnya di Kecamatan Bayang, dan di Kota Padang, khususnya di Kecamatan Kuranji serta Kelurahan Lubuk Minturun.
Khusus untuk Kota Padang, Isril mencatat tiga titik saluran drainase utama yang mengalami masalah dalam kategori parah, yaitu: DAS Air Dingin dengan luas DAS ±129 km² (ketinggian 0–±1.808 mdpl) dengan panjang sungai utama ±26 km.
DAS Kuranji dengan luas DAS ±225 km² dengan panjang sungai utama 32,4 km (terdiri dari Sub DAS Padang Aie Janiah dan Sub DAS Padang Aie Karuih).
Dan, DAS Arau dengan luas DAS ±172 km² dengan panjang sungai utama ±29 km.
Guna mencegah dampak yang lebih fatal, Isril meminta agar aspek teknis hidrologi dan pembenahan total hulu-hilir menjadi prioritas utama penataan ruang di Sumbar. (*)











