Covesia.co.id – Daerah aliran sungai punya fungsi yang sangat penting sebagai pengatur tata air, penyangga sistem kehidupan, serta pencegah efek dahsyat bencana alam seperti banjir dan tanah longsor.
Isril Berd, Ketua Forum DAS Sumatera Barat menyampaikan pentingnya peranan DAS sehingga dampak ketika dialihfungsikannya akan mempengaruhi hidrologi DAS tersebut.
“Kondisi lahan berhutan dengan lahan terbuka akan berpengaruh kepada rasio limpasan permukaan (run-off coefficient atau nilai C) antara lahan hutan dan lahan terbuka memiliki perbedaan yang sangat signifikan dalam kemampuan penyerapan air (infiltrasi),” ungkapnya kepada Covesia.co.id, Jumat (9/10).
Lahan hutan yang ditutupi hutan (C = 0,05 – 0,20): Hanya sekitar 5% hingga 20% dari total air hujan yang berubah menjadi limpasan permukaan dikarenakan sebagian besar air hujan (80%–95%) diserap oleh tanah (infiltrasi) ataupun sebahagian ada yg tertahan oleh tajuk dan serasah lahan hutan.
Ia menjelaskan jika dampak dari hilangnya tutupan hutan, alih fungsi, dan juga penebangan liar di bagian hulu terutama akan mengurangi daya resap air sehingga meningkatkan risiko erosi, peningkatan debit puncak air, serta ancaman banjir dan longsor bagi masyarakat di wilayah hilir saat hujan deras.
Prinsip DAS yang harus dipahami menurut Isril adalah ketika wilayah yang sebelumnya tertutup hutan lalu dibuka maka akan mempengaruhi hidrologi di DAS tersebut.
Ketika suatu lahan yang sebelumnya ditutupi hutan lalu dibabat maka lahan tersebut akan berubah biofisiknya terutama strukturnya menjadi padat. Hal-hal yang menyuburkan tanah seperti humus yang sebelumya ada akan mengering dan tanahnya akan menjadi padat dan jika ada air hujan yang menimpanya, air tidak akan bisa menembus tanah sehingga akan mengalir di permukaan tanah.
“Nah, kalau DAS prinsipnya kan tertutup hutan, kalau hutan dibuka, ya daerah itu akan terbuka dan mempengaruhi hidrologi di DAS tersebut,” kata Isril.
Peran krusial hutan ketika hujan turun demikian pada saat tajuk-tajuk pohon yang rapat akan menampung air hujan sehingga energi dari hujan tidak hanya ada di permukaan tanah saja, namun mampu diserap tanah dan mengalir kembali ke bawah.
Isril menjelaskan jika salah satu DAS yang punya peran penting yakni DAS Air Dingin di Kota Padang yang luasnya hampir seperlima Kota Padang dan masuk kedalam salah satu dari tiga DAS besar di Padang yaitu DAS Arau, DAS Kuranji, DAS Air Dingin. Tidak menutup kemungkinan jika semakin banyak lahan terbuka sungai batang Air Dingin nantinya tidak akan mampu lagi menampung volume air hujan sehingga akan meluap.
Guru Besar Universitas Gunadarma ini juga menyampaikan jika sungai itu merupakan drainase alam, jadi besar kecilnya sungai itu ditentukan oleh bentuk kondisi biofisik DAS, semakin luas dan besar wilayah DAS, maka volume air yang ditampung semakin besar sehingga membentuk sungai utama yang besar, dan sebaliknya.
“Jadi kalau DAS-nya besar, maka sungainya pun besar juga. Kalau DAS-nya kecil, nah, sungai-sungainya juga kecil ya,” kata Isril
Jika melihat aturan lama tentang kehutanan proporsi tutupan hutan minimal adalah 30% tapi menurut Isril alangkah baiknya jika dipertahankan pada angka 40%. Demikian Isril menekankan posisi hilir, hulu, tengah jika terjadi pembukaan lahan maka tetap akan berdampak kepada perubahan hidrologi dan run off.
“Iya. Prinsipnya kalau ada perubahan tutup lahan, baik di hulu, di tengah, termasuk juga di hilir kalau dirubah tutup lahan, dia akan berdampak kepada terjadinya air run-off yang lebih besar.” ungkapnya
Dalam akhir penjelasannya Isril menekankan bagian hulu DAS adalah zona yang tidak boleh diganggu, jangan ada aktivitas alihfungsi karena pada dasarnya apabila penurunan luas hutan jangka panjang terus terjadi di hulu DAS Air Dingin dari tahun ke tahun akan punya dampak besar nantinya.
“Hulu DAS itu jangan diganggu. Artinya jangan ada alih fungsi lahan dan penebangan liar,” tutupnya.. (*)











