Covesia.co.id — Kabut asap makin pekat menyelimuti sejumlah wilayah Sumatera Barat, Kamis (8/10/2026) pagi.
Diduga kabut asap ini hasil kiriman dari Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla) di Sumatera Selatan dan Jambi yang kembali menggila. Tiupan angin membawa kabut asap ke sejumlah wilayah udara Sumatera Barat.
Data pemantauan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) hingga Kamis pagi menunjukkan terdapat 4.845 titik panas atau hotspot di Pulau Sumatra.
Sumatera Selatan menjadi penyumbang hotspot terbanyak dengan 3.847 titik, disusul Jambi sebanyak 384 titik. Sementara Bangka Belitung tercatat 316 titik dan Lampung 251 titik.
Untuk Sumatera Barat, BMKG Stasiun Pekanbaru mencatat dua hotspot. Angka tersebut jauh lebih kecil dibandingkan jumlah titik panas di Sumsel dan Jambi.
Kondisi ini memperkuat indikasi bahwa kabut asap yang menyelimuti sejumlah daerah di Sumbar bukan semata-mata berasal dari kebakaran di wilayah Sumbar.
Ketua Tim Publikasi dan Diseminasi BMKG Minangkabau, Yudha Nugraha mengatakan pemantauan sebelumnya menunjukkan hotspot di Sumbar hanya terdapat di satu lokasi, yakni Kabupaten Dharmasraya. Sementara titik panas dalam jumlah signifikan berada di Sumatera Selatan dan Jambi.
“Untuk di Sumbar pantauan terakhir terdapat hotspot hanya satu lokasi di Dharmasraya, sedangkan untuk titik panas signifikan terpantau di Sumsel dan Jambi, dengan arah angin dari tenggara yang menjadi sumber utama kiriman asap,” kata Yudha.
Menurut Yudha, arah angin menjadi faktor penting dalam membawa asap dari wilayah yang mengalami karhutla menuju Sumbar.
Asap dari wilayah Sumsel dan Jambi bergerak mengikuti pola angin dari tenggara sehingga kemudian memengaruhi kualitas udara di sejumlah wilayah Sumbar, termasuk Kota Padang.
Kondisi itu juga terjadi di Kabupaten Dharmasraya. Pemerintah daerah sebelumnya memastikan tidak terdapat titik api yang menjadi sumber utama kabut asap di wilayahnya.
Kepala Dinas Kominfo Dharmasraya, Martin Efendi, mengatakan kabut asap yang dirasakan masyarakat merupakan asap kiriman dari daerah lain.
“Kalau titik api di daerah kita saya rasa tidak menyumbang kabut asap. Karena titik api di Dharmasraya nihil, sementara untuk daerah tetangga masih terpantau titik panas,” ujar Martin.
Martin menyebut asap tersebut berasal dari aktivitas kebakaran hutan dan lahan di sejumlah wilayah, termasuk Jambi hingga Sumatera Selatan.
Dampak kabut asap juga terlihat dari kualitas udara Dharmasraya yang sempat masuk kategori tidak sehat.
Pemerintah daerah bahkan memperpanjang pembelajaran jarak jauh (PJJ) bagi peserta didik PAUD hingga SMP pada 7-8 Oktober 2026.
Sementara di Kota Padang, kabut asap kembali menjadi perhatian. Ketua DPRD Kota Padang Muharlion meminta pemerintah kota mempertimbangkan PJJ apabila kondisi udara semakin membahayakan kesehatan pelajar.
“Yang kita kasihan itu pelajar. Jika kabut asap membahayakan, terpaksa kita minta pemko untuk meliburkan sekolah, dan pembelajaran dilaksanakan secara pembelajaran jarak jauh atau PJJ,” kata Muharlion.
BMKG sebelumnya juga menyebut kualitas udara di sejumlah wilayah Sumbar berada pada kategori sedang hingga tidak sehat.
Masyarakat diminta menggunakan masker ketika beraktivitas di luar ruangan, terutama saat kabut asap kembali pekat. (*)










