Covesia.co.id — Setelah hampir empat bulan tidak tercatat mengalami erupsi, Gunung Marapi di Sumatera Barat kembali meletus pada Sabtu (26/9/2026) malam.
Erupsi terjadi sekitar pukul 21.40 WIB dan memicu hujan abu vulkanik di sejumlah wilayah Kabupaten Agam dan Kota Bukittinggi.
Sebelum erupsi Sabtu malam, aktivitas erupsi terakhir Gunung Marapi yang terdokumentasi terjadi pada 30 Mei 2026. Artinya, terdapat jeda sekitar 119 hari atau hampir empat bulan sebelum Marapi kembali mengalami erupsi.
Pada erupsi 30 Mei tersebut, Gunung Marapi menyemburkan kolom abu hingga sekitar 2.000 meter di atas puncak.
Kolom abu berwarna kelabu dengan intensitas tebal dan bergerak ke arah timur laut. Erupsi saat itu terekam seismogram dengan amplitudo maksimum 30 milimeter dan berlangsung sekitar 1 menit 25 detik.
Kini, setelah hampir empat bulan, aktivitas erupsi kembali terjadi pada Sabtu malam.
Ketua Pos Pengamatan Gunungapi (PGA) Marapi, Teguh Purnomo, mengatakan erupsi tersebut terekam pada seismogram dengan amplitudo maksimum 30 milimeter dan berlangsung selama 79 detik.
“Saat ini tingkat aktivitas Gunung Marapi masih bertahan pada Status Level II atau Waspada. Letusan tersebut memicu sebaran hujan abu vulkanik di sejumlah wilayah pemukiman warga di Kabupaten Agam dan sekitarnya,” ujar Teguh.
Namun Erupsi tadi malam, kolom abu tidak bisa terpantau. Dikarenakan puncak gunung tertutup kabut tebal.
Berdasarkan rekaman visual, sejumlah laporan memperkirakan kolom abu mencapai sekitar 2.000 hingga 2.500 meter di atas puncak.
Dampak erupsi kali ini juga langsung dirasakan masyarakat. Hujan abu dilaporkan terjadi di sejumlah wilayah Agam, antara lain Kamang, Simpang Bukik, Sungai Pua, Lasi, Canduang, Bukik Batabuah dan Ampek Angkek.
Kota Bukittinggi juga terdampak hujan abu. Aktivitas warga dan sejumlah kegiatan di kota tersebut turut diwarnai turunnya abu vulkanik. Suara dentuman dan gemuruh juga dilaporkan terdengar hingga sejumlah wilayah Agam dan Tanah Datar.
Gunung Marapi hingga saat ini masih berstatus Level II atau Waspada. Masyarakat, pendaki dan wisatawan diimbau tidak melakukan aktivitas dalam radius 3 kilometer dari pusat erupsi atau Kawah Verbeek.
Warga yang terdampak hujan abu juga diimbau menggunakan masker dan pelindung mata ketika beraktivitas di luar ruangan serta mengikuti perkembangan informasi resmi dari petugas pemantauan Gunung Marapi. (*)










