Covesia.co.id – Peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW yang diperingati hari ini hendaknya tidak berhenti pada kegiatan seremonial. Momentum tersebut harus menjadi ruang untuk menghidupkan kembali keteladanan Rasulullah SAW, terutama dalam membangun kejujuran, kepedulian sosial, dan akhlak dalam kehidupan sehari-hari.
Guru Besar UIN Imam Bonjol Padang, Prof Duski Samad, mengatakan Maulid Nabi seharusnya menjadi bagian dari gerakan dakwah yang mendorong umat tidak hanya mengenang sejarah kelahiran Rasulullah SAW, tetapi juga menerapkan nilai-nilai yang dicontohkan beliau.
Menurutnya, salah satu keteladanan Rasulullah SAW yang sangat relevan dengan kondisi masyarakat saat ini adalah kejujuran. Rasulullah dikenal dengan gelar Al-Amin karena sifatnya yang dapat dipercaya dan selalu menjunjung tinggi kejujuran.
“Kejujuran itu penting. Muslim Indonesia kejujurannya sangat kurang sekali,” kata Prof Duski Samad kepada Covesia, Selasa (25/8/2026).
Ia menilai persoalan ketidakjujuran menjadi salah satu faktor yang memicu berbagai persoalan di tengah masyarakat, termasuk praktik korupsi dan berbagai bentuk pelanggaran.
“Kenapa korupsi itu banyak? Banyak orang yang tidak jujur. Kenapa pelanggaran perjalanan banyak terjadi? Karena tidak jujur,” ujarnya.
Akhlak Nabi Harus Hadir di Era Media Sosial
Prof. Duski mengatakan keteladanan Rasulullah SAW juga semakin penting diterapkan di tengah perkembangan teknologi dan maraknya penggunaan media sosial.
Menurutnya, masyarakat harus mampu menjaga ucapan, tidak menyebarkan informasi yang tidak benar, serta menghormati orang lain meskipun memiliki pandangan yang berbeda.
Ia menilai pendidikan moral dan agama harus diperkuat agar masyarakat tidak hanya mengetahui aturan, tetapi juga memiliki kesadaran untuk menjalankannya.
Selain pendidikan, menurutnya, penegakan hukum juga harus dilakukan secara konsisten dengan didukung aparat penegak hukum yang menjalankan tugas secara profesional.
“Pendidikan diperkuat, penegakan hukum, dan diperlukan aparat penegak hukum yang konsisten,” katanya.
Teguh dalam Kebenaran, Harmonis dalam Perbedaan
Selain kejujuran, Prof. Duski mengingatkan pentingnya meneladani Rasulullah SAW dalam menghadapi perbedaan.
Menurutnya, umat Islam harus tetap istiqamah terhadap kebenaran yang diyakini berdasarkan ajaran Allah dan Rasulullah. Namun, keteguhan dalam memegang prinsip tidak boleh membuat seseorang kehilangan sikap toleransi terhadap orang lain.
“Ada dua prinsip dasar. Istiqamah dengan kebenaran yang kita yakini, keteguhan pendirian, dan perlu tasamuh, toleransi,” jelasnya.
Ia menegaskan perbedaan merupakan keniscayaan dalam kehidupan bermasyarakat. Karena itu, masyarakat harus mampu tetap teguh pada pendirian sekaligus menjaga hubungan harmonis dengan orang lain.
“Kalau berbeda itu keniscayaan. Teguh dalam pendirian, harmonis dalam perbedaan,” ujarnya.
Menurutnya, pesan tersebut semakin relevan di tengah maraknya perdebatan di media sosial yang tidak jarang berkembang menjadi saling menyerang, menghina, bahkan menyebarkan informasi yang belum tentu benar.
Maulid Harus Melahirkan Solidaritas Sosial
Prof. Duski juga mendorong agar peringatan Maulid Nabi menjadi pintu masuk untuk memperkuat solidaritas sosial.
Prof. Duski juga mendorong agar peringatan Maulid Nabi hari ini menjadi pintu masuk untuk memperkuat solidaritas sosial.
Menurutnya, Rasulullah SAW memberikan teladan dalam membangun masyarakat yang memiliki kepedulian, kebersamaan, dan rasa tanggung jawab terhadap sesama.
“Maulid ini mesti didorong menjadi pintu masuk solidaritas sosial. Rasul paling tinggi solidaritasnya,” katanya.
Ia mencontohkan kehidupan Rasulullah SAW ketika membangun masyarakat Madinah. Masjid Nabawi, kata dia, tidak hanya menjadi tempat ibadah, tetapi juga memiliki peran penting dalam membangun kehidupan sosial masyarakat.
“Masjid tidak boleh terlepas dari pasar dan masyarakat. Tidak boleh meski hanya untuk beribadah saja,” tegasnya.
Karena itu, semangat Maulid Nabi dapat diwujudkan melalui berbagai kegiatan yang memberikan manfaat langsung kepada masyarakat, khususnya membantu kelompok yang membutuhkan.
Menurutnya, kecintaan kepada Rasulullah SAW seharusnya tidak hanya diwujudkan melalui salawat dan peringatan Maulid, tetapi juga melalui kepedulian terhadap persoalan sosial di lingkungan sekitar.
Cinta Nabi Harus Dibuktikan
Prof. Duski menegaskan, peringatan Maulid Nabi harus mampu mengubah kecintaan kepada Rasulullah SAW menjadi perilaku nyata.
Prof. Duski menegaskan, peringatan Maulid Nabi hari ini harus mampu mengubah kecintaan kepada Rasulullah SAW menjadi perilaku nyata.
Kejujuran dalam bekerja, amanah dalam menjalankan tanggung jawab, menghormati perbedaan, menjaga etika di media sosial, serta peduli kepada masyarakat merupakan bagian dari upaya menerjemahkan akhlak Rasulullah dalam kehidupan sehari-hari.
Ia berharap masyarakat tidak menjadikan Maulid Nabi sekadar agenda tahunan yang selesai setelah acara berakhir.
“Maulid” harus menjadi momentum untuk memperbaiki kualitas kehidupan umat, baik dalam keluarga, lingkungan masyarakat, dunia pendidikan, pekerjaan, maupun ruang digital.
Dengan demikian, kecintaan kepada Rasulullah SAW tidak hanya terdengar dalam lantunan salawat dan ceramah, tetapi benar-benar terlihat dalam perilaku umat.
Sebab, menurut Prof. Duski, keteladanan Nabi Muhammad SAW pada akhirnya bukan sekadar untuk dikenang, melainkan untuk dipraktikkan dalam kehidupan nyata.










