Covesia.co.id — Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mendeteksi 2.610 titik panas (hotspot) yang tersebar di Pulau Sumatera. Dari jumlah tersebut, sebanyak 27 titik terpantau berada di Sumatera Barat.
Data tersebut merupakan hasil pemantauan BMKG Stasiun Pekanbaru berdasarkan pembaruan pada Minggu (23/8/2026) pukul 07.00 WIB.
Titik panas terdeteksi di sembilan provinsi di Pulau Sumatera, dengan jumlah terbanyak berada di Sumatera Selatan.
Prakirawan BMKG Pekanbaru, Elisa JS Kedang, mengatakan Sumatera Selatan menjadi wilayah dengan jumlah titik panas tertinggi, yakni 1.311 titik.
“Wilayah lain yang turut menyumbang angka tinggi adalah Provinsi Riau dengan 355 titik, Jambi 278 titik, Bangka Belitung dengan 268 titik, dan Lampung dengan 187 titik, disusul Aceh 67 titik, Kepulauan Riau 55 titik, Sumatera Utara 45 titik, Sumatera Barat 27 titik, dan Bengkulu 17 titik,” kata Elisa.
Dari data tersebut, Sumatera Barat menjadi salah satu provinsi dengan jumlah titik panas paling rendah di Pulau Sumatera.
Namun, keberadaan 27 titik panas tetap perlu diwaspadai karena hotspot dapat menjadi indikator awal potensi kebakaran hutan dan lahan (karhutla).
Secara keseluruhan, sebaran titik panas di Sumatera menunjukkan konsentrasi terbesar berada di bagian selatan pulau.
Sumatera Selatan menyumbang 1.311 titik, disusul Riau 355 titik, Jambi 278 titik, Bangka Belitung 268 titik, dan Lampung 187 titik.
Sementara itu, Aceh terpantau memiliki 67 titik panas, Kepulauan Riau 55 titik, Sumatera Utara 45 titik, Sumatera Barat 27 titik, dan Bengkulu 17 titik.
Kondisi di sejumlah wilayah Sumatera juga mulai berdampak terhadap jarak pandang. Di Pekanbaru, misalnya, jarak pandang terpantau terbatas akibat asap pada Sabtu (22/8) malam.
Tingginya jumlah hotspot tersebut menjadi perhatian karena potensi karhutla dapat meningkat ketika titik panas berada di kawasan yang memiliki vegetasi mudah terbakar dan didukung kondisi cuaca kering.
Untuk Sumatera Barat, angka 27 titik panas menjadi peringatan agar pengawasan terhadap kawasan rawan karhutla tetap diperkuat.
Pemantauan dan penanganan dini penting dilakukan untuk mencegah titik panas berkembang menjadi kebakaran yang lebih luas.
BMKG sendiri terus melakukan pemantauan terhadap perkembangan cuaca, kualitas udara, serta sebaran titik panas sebagai bagian dari sistem peringatan dini.
Data hotspot digunakan sebagai salah satu indikator dalam mendeteksi potensi kebakaran, sehingga perlu ditindaklanjuti dengan pengecekan kondisi di lapangan. (*)










