Covesia.co.id – Kiper Timnas Cape Verde, Vozinha, tengah menjadi sorotan dunia, setelah aksi gemilangnya dalam babak penyisihan grup H piala Dunia 2026, Senin (15/6/2026) kemarin.
Beberapa penyelamatan yang sensasional, Timnas Spanyol gagal meraih kemenangan dan hanya berbagi angka dengan Timnas Cape Verde. Skor 0-0 bertahan sampai akhir pertandingan. Vozinha dinobatkan menjadi Man Of The Match dalam pertandingan ini.


Walaupun sudah menginjak usia 40 tahun, penjaga gawang veteran ini masih mampu menunjukkan kualitas kelas dunia dan menjadi salah satu pilar penting negaranya di panggung internasional. Menariknya, tak banyak yang tahu bahwa beberapa tahun lalu ia pernah menjadi rekan satu tim pemain Indonesia, yakni Witan Sulaeman, saat keduanya bermain di klub Slovakia, AS Trenčín.
Vozinha memiliki nama lengkap Josimar Dias, namun lebih dikenal dengan nama panggungnya, Vozinha. Ia lahir pada 3 Juni 1986 dan telah lama menjadi andalan tim nasional Cape Verde.
Pengalamannya yang panjang membuatnya dihormati tidak hanya di negaranya, tetapi juga di berbagai klub yang pernah dibelanya.
Karier Vozinha tidak dibangun secara instan. Ia memulai perjalanan profesionalnya dari klub-klub lokal Cape Verde sebelum merantau ke Portugal dan kemudian berkiprah di sejumlah negara Eropa lainnya.
Sebagai seorang penjaga gawang, ia dikenal memiliki refleks cepat, keberanian dalam duel udara, dan kemampuan memimpin lini pertahanan. Pengalaman yang luas membuatnya tetap mampu bersaing meski usianya tak lagi muda.
Di level internasional, Vozinha telah menjadi ikon bagi sepak bola Cape Verde. Negara kepulauan kecil yang terletak di pesisir barat Afrika itu memang bukan kekuatan tradisional sepak bola dunia.
Namun, berkat generasi pemain berkualitas, termasuk Vozinha, Cape Verde mampu bersaing dengan negara-negara besar Afrika dan beberapa kali tampil mengejutkan dalam turnamen internasional.
Yang menarik bagi publik Indonesia adalah keterkaitan Vozinha dengan Witan Sulaeman. Meski banyak yang mengira mereka pernah bermain bersama di klub Serbia FK Radnik Surdulica, faktanya tidak demikian. Witan memang memperkuat Radnik Surdulica pada periode 2020–2021 dan menjadi pemain Indonesia pertama yang bermain di Liga Serbia. Namun, Vozinha tidak bermain di klub tersebut.
Kebersamaan Witan dan Vozinha justru terjadi ketika Witan bergabung dengan AS Trenčín di Slovakia pada tahun 2022. Saat itu, Vozinha merupakan salah satu pemain senior di klub tersebut, sedangkan Witan adalah pemain muda yang sedang berusaha mengembangkan kariernya di Eropa.
Kehadiran Vozinha yang berpengalaman menjadi salah satu sosok senior yang menemani perjalanan Witan di klub tersebut.
Bagi Witan, pengalaman bermain di Eropa merupakan bagian penting dalam pengembangan kariernya. Setelah memulai petualangan di FK Radnik Surdulica pada Februari 2020 dengan kontrak 3,5 tahun, ia kemudian pindah ke Polandia dan Slovakia untuk mencari menit bermain yang lebih banyak.
Selama di Radnik Surdulica, Witan hanya tampil lima kali karena ketatnya persaingan di tim utama. Meski demikian, pengalaman tersebut menjadi bekal berharga bagi pemain asal Palu itu untuk terus berkembang.
Witan kemudian melanjutkan kariernya ke beberapa klub Eropa sebelum akhirnya kembali ke Indonesia dan memperkuat Persija Jakarta. Kini ia menjadi salah satu pemain andalan Timnas Indonesia dan termasuk generasi emas sepak bola Indonesia yang terus menunjukkan perkembangan signifikan.
Sementara itu, Vozinha terus menunjukkan bahwa usia hanyalah angka. Di usia 40 tahun, ia masih dipercaya menjadi kiper utama Cape Verde. Pengalaman, ketenangan, serta kepemimpinannya membuat ia tetap menjadi pilihan utama pelatih. Penampilannya yang konsisten bahkan membuat banyak penggemar sepak bola kagum, mengingat tidak banyak penjaga gawang yang mampu bertahan di level tertinggi hingga usia tersebut.
Perjalanan hidup Vozinha juga menjadi inspirasi bagi banyak pemain muda. Ia berasal dari negara kecil yang tidak memiliki tradisi sepak bola sebesar Brasil, Argentina, atau negara-negara Eropa. Namun, dengan kerja keras dan ketekunan, ia mampu menembus kompetisi internasional dan menjadi simbol kebanggaan bagi Cape Verde. Kisahnya menunjukkan bahwa keterbatasan bukanlah penghalang untuk meraih prestasi.
Bagi pencinta sepak bola Indonesia, hubungan antara Vozinha dan Witan Sulaeman menjadi fakta menarik yang jarang diketahui. Dua pemain dari latar belakang yang sangat berbeda pernah berada dalam satu ruang ganti di AS Trenčín: satu adalah legenda hidup Cape Verde yang sarat pengalaman, sementara yang lain adalah talenta muda Indonesia yang sedang mengejar mimpi di Eropa. Pertemuan tersebut menjadi bukti bahwa sepak bola mampu mempertemukan pemain dari berbagai penjuru dunia.
Kini, saat Witan terus berkarier bersama Persija Jakarta dan Timnas Indonesia, Vozinha masih setia menjaga gawang Cape Verde. Meski jalur karier keduanya berbeda, kisah kebersamaan mereka di Slovakia akan selalu menjadi bagian menarik dalam perjalanan sepak bola kedua pemain tersebut. Bagi Witan, pengalaman berlatih dan bermain bersama pemain senior seperti Vozinha tentu menjadi pelajaran berharga. Sedangkan bagi Vozinha, keberadaannya di AS Trenčín turut menjadi bagian dari perjalanan seorang pemain muda Indonesia yang kini menjadi salah satu bintang sepak bola nasional.
Dari sebuah klub di Slovakia, lahirlah sebuah kisah unik: seorang kiper veteran Cape Verde dan seorang pemain muda Indonesia pernah berbagi mimpi di lapangan hijau. Kini, keduanya melanjutkan perjalanan masing-masing, tetapi jejak kebersamaan mereka tetap menjadi cerita menarik yang menghubungkan Indonesia dengan Cape Verde dalam dunia sepak bola. (*)


















