Menu

Mode Gelap
LBH Sumbar: Lemahnya Pengawasan Picu Pembakaran Hutan Berulang Gubernur Nonaktif Riau Abdul Wahid Divonis 2 Tahun Penjara Warga Sumbar Korban TPPO di Myanmar Berhasil Dipulangkan ke Indonesia Prabowo Resmi Naikkan Tukin TNI, Prajurit Terima Rp 2,5 Juta Perbulan Di Tengah Curah Hujan Tinggi, Ada 8 Titik Api Muncul di Sumbar Hari Ini PN Pekanbaru Bacakan Vonis Gubernur Riau Nonaktif

Daerah

Kepemimpinan Etalase: Menagih Esensi di Balik Riuh Citra Digital

badge-check

Kepemimpinan Etalase: Menagih Esensi di Balik Riuh Citra Digital Perbesar

Di era informasi yang berlari kencang, wajah kepemimpinan kita mengalami pergeseran seismik. Media sosial, yang sejatinya adalah instrumen transparansi dan jembatan akuntabilitas, perlahan bermetamorfosis menjadi etalase kosmetik yang megah. Bagi pejabat publik, melaporkan kinerja kepada masyarakat adalah kewajiban moral dan konstitusional. Namun hari ini, kita patut bertanya: yang tersaji di layar ponsel kita itu laporan kinerja yang jujur, atau sekadar sandiwara estetik yang nir-esensi?

Fenomena “pemimpin konten” ini menciptakan realitas yang paradoksal. Di satu sisi, publik disuguhi dokumentasi aktivitas yang intens; mulai dari kunjungan lapangan, seremonial bantuan, hingga narasi humanis yang menggugah emosi. Namun di sisi lain, masyarakat masih bergulat dengan persoalan fundamental yang tidak bisa diselesaikan hanya dengan unggahan video. Masalah ekonomi, ketidakpastian hukum, hingga ketimpangan infrastruktur membutuhkan langkah konkret yang nyata, bukan sekadar sudut pandang kamera (angle) yang pas untuk menarik empati.

Bahaya terbesar muncul ketika eksposur digital menjadi tujuan utama, bukan lagi dampak dari sebuah kinerja. Ketika itu terjadi, kebijakan publik sering kali hanya menyentuh permukaan. Program-program dirancang agar “tampak bagus” di layar, namun sering kali gagal menjawab persoalan secara real-time di akar rumput. Masyarakat tidak butuh pejabat yang pandai bersajak di media sosial saat kebutuhan pokok sulit terjangkau atau saat keadilan terasa diskriminatif. Rakyat butuh kehadiran negara yang solutif, bukan sekadar kehadiran tokoh yang menghibur secara visual.

Seorang pejabat yang memegang amanah seharusnya sadar bahwa panggung sesungguhnya bukanlah algoritma media sosial, melainkan dapur-dapur rakyat yang harus tetap berasap dan ruang-ruang publik yang harus tetap aman. Ada perbedaan mendasar antara pemimpin yang melayani dengan pemimpin yang sekadar memburu momentum. Pemimpin yang tulus menggunakan ruang publik untuk mendengar kritik dan mengakui kendala sistemik, sementara pemimpin citra menggunakan ruang tersebut sebagai topeng untuk menutupi kegagalan dengan riuh rendah komentar pujian yang terorganisir.

Transparansi dan akuntabilitas sejati tidak diukur dari jumlah pengikut atau banyaknya tanda suka (likes). Keduanya diukur dari seberapa besar dampak kebijakan terhadap kesejahteraan rakyat yang paling bawah. Integritas seorang pejabat publik dipertaruhkan ketika ia lebih memilih memoles wajah di dunia maya daripada memperbaiki birokrasi di dunia nyata.

Sudah saatnya para pejabat kembali pada esensi kepemimpinan: sebuah pengabdian yang sunyi namun terasa, bukan sebuah kegaduhan yang kosong. Esensi harus diletakkan jauh di atas citra. Karena pada akhirnya, ingatan masyarakat jauh lebih panjang daripada durasi sebuah video singkat. Rakyat akan selalu mengenang pemimpin yang bekerja dengan hati dan bukti, bukan mereka yang hanya lihai bersandiwara di balik lensa kamera.

Sebab, pada akhirnya, kesejahteraan sejati tidak pernah membutuhkan filter atau penyuntingan konten.

Oleh: Harpen Agus Bulyandi (Ketua DPRD Kota Pariaman 2019- 2024)

Facebook Comments Box

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Belum ada komentar disini
Jadilah yang pertama berkomentar disini
Kabar lainnya

Padang Timur Optimistis Hadapi Lomba Desawisma, Kubu Marapalam Jadi Andalan

26 Juli 2026 - 14:04 WIB

Tolak PETI, Ratusan Warga Gunung Malintang Sweeping Lokasi Tambang

26 Juli 2026 - 12:08 WIB

Terpilih Secara Aklamasi, Mulyadi Kembali Nahkodai DPD Partai Demokrat Sumbar

26 Juli 2026 - 09:48 WIB

Padang Bidik Status Kota Gastronomi UNESCO, Finalisasi Dossier Selesai Digelar

23 Juli 2026 - 15:13 WIB

Sengketa Lahan Pemko Bukittinggi dan Universitas Fort De Kock Berujung Ricuh, Kampus Lapor Dugaan Penganiayaan

22 Juli 2026 - 19:37 WIB

Trending Topik Daerah