Mengenal Hj Rahmah El Yunusiyyah: Pendiri Sekolah Islam Khusus Perempuan Pertama di Indonesia Asal Sumbar yang Kini Jadi Pahlawan Nasional

Covesia.co.id – Baru baru ini, Presiden Prabowo Subianto menetapkan sepuluh pahlawan nasional baru pada momentum peringatan Hari Pahlawan, Senin (10/11/2025) kemarin.

Berdasarkan Keputusan Presiden Republik Indonesia (Keppres) Nomor 116/TK/Tahun 2025 tentang Penganugerahan Gelar Pahlawan Nasional yang ditetapkan di Jakarta pada tanggal 6 November 2025, Presiden menetapkan Almarhum K.H. Abdurrahman Wahid dari Provinsi Jawa Timur (Pahlawan dengan perjuangan politik dan pendidikan Islam).

Almarhum Jenderal Besar TNI H. M. Soeharto dari Provinsi Jawa Tengah (Pahlawan bidang perjuangan), Almarhumah Marsinah dari Provinsi Jawa Timur (Pahlawan bidang perjuangan sosial dan kemanusiaan), Almarhum Prof. Dr. Mochtar Kusumaatmadja dari Provinsi Jawa Barat (Pahlawan dalam bidang perjuangan hukum dan politik), Almarhumah Hajjah Rahmah El Yunusiyyah dari Provinsi Sumatera Barat (Pahlawan bidang perjuangan pendidikan Islam), Almarhum Jenderal TNI (Purn) Sarwo Edhie Wibowo dari Provinsi Jawa Tengah (Pahlawan bidang perjuangan bersenjata), Almarhum Sultan Muhammad Salahuddin dari Provinsi Nusa Tenggara Barat (Pahlawan bidang perjuangan pendidikan dan diplomasi), Almarhum Syaikhona Muhammad Kholil dari Provinsi Jawa Timur (Pahlawan bidang perjuangan pendidikan Islam), Almarhum Tuan Rondahaim Saragih dari Provinsi Sumatera Utara (Pahlawan bidang perjuangan bersenjata), dan Almarhum Zainal Abidin Syah dari Provinsi Maluku Utara (Pahlawan bidang perjuangan politik dan diplomasi).

Dari sepuluh tokoh tersebut terdapat satu tokoh yang berasal dari Sumatera Barat, yakni Almarhumah Hajjah Rahmah El Yunusiyyah. Wanita kelahiran 26 Oktober 1900 tersebut tercatat dalam sejarah memiliki andil besar dalam dunia pendidikan dan perjuangan pada zaman kolonial.

Dikutif dari berbagai sumber, berikut biografi singkat Almarhumah Hajjah Rahmah El Yunusiyyah.

El Yunusiyyah dijuluki sebagai seorang reformator ulung yang kini diakui sebagai Pahlawan Nasional pada tahun 2025. Beliau lahir di Nagari Bukit Surungan, Padang Panjang pada tahun 1900, anak bungsu dari pasangan Muhammad Yunus al-Khalidiyah bin Imanuddin dan Rafia membuktikan bahwa perjuangan tidak selalu di medan perang, tetapi juga dapat ditempa di ruang-ruang kelas.

Di awal abad ke-20, saat pendidikan perempuan masih terbelakang, Rahmah menolak sistem koedukasi yang membatasi suara kaumnya. Dengan keberanian yang luar biasa, beliau mendatangi para ulama untuk belajar agama secara privat, tindakannya tersebut masih banyak dinilai tabu pada saat itu. Meski demikian dirinya berani “menembus batas’ kelaziman demi sebuah tujuan yang mulia, yakni memperjuangkan kesataraan pendidikan terhadap kaum perempuan.

Puncaknya, pada 1 November 1923, ia mendirikan Diniyah Putri di Padang Panjang. Ini bukan sekadar sekolah, melainkan sekolah agama Islam khusus perempuan pertama di Indonesia, sebuah mercusuar yang memancarkan cahaya baru. Rahmah memastikan kurikulum yang diajarkan ditempat itu tidak hanya fikih dan bahasa Arab, tetapi juga ilmu terapan seperti kebidanan, kesehatan, hingga keterampilan rumah tangga. Beliau mempersiapkan perempuan untuk menjadi ibu yang cerdas sekaligus agen perubahan.

Atas jasanya tersebut, , pada tahun 1957 Universitas Al-Azhar di Mesir untuk membuka Kulliyatul Banat (fakultas khusus perempuan). Fakultas itu berdiri sebagai pengakuan tertinggi terhadap Rahmah yang dianugerahi gelar kehormatan “Syekhah” oleh Al-Azhar, gelar yang belum pernah diberikan kepada siapapun sebelumnya.

Peran Rahmah tidak berhenti di gerbang sekolah. Ketika api kemerdekaan berkobar, beliau juga tercatat aktiv dalam membantu perjuangan. Selama Revolusi Nasional, Rahmah memimpin pembentukan unit perbekalan Tentara Keamanan Rakyat (TKR) di Padang Panjang. Beliau menjamin pasokan makanan, obat-obatan, dan bahkan membantu pengadaan senjata bagi para pejuang.

Meski pada akhirnya pada 7 Januari 1949, beliau ditangkap dan dijebloskan ke penjara oleh Belanda. Namun hal tersebut tidak menyurutkan api perjuangan atas impian dan cita citanya demi kemerdekaan Indonesia.

Pada 1961, Rahmah kembali memimpin perguruannya setelah tiga tahun ia tinggalkan pasca-pergolakan PRRI. Pada 1964, Rahmah menjalani operasi tumor payudara di RS Pirngadi, Medan. Pada Desember 1967, Rahmah berkunjung ke Jakarta untuk terakhir kali dalam rangka pembentukan Dewan Kurator Perguruan Tinggi Diniyah Putri. Pada Juli 1968, dengan kondisi fisik yang semakin lemah, Rahmah berangkat menuju Kelantan ditemani keponakannya Isnaniah Saleh. Mereka menemui alumni Diniyah Putri di beberapa negara bagian Malaysia didampingi Datin Sakinah, alumni Diniyyah Putri asal Perak yang tinggal di Kelantan bersama suaminya, Datok Mohammad Asri yang merupakan Menteri Besar Kelantan. Mereka menyinggahi Penang, Perak, Kuala Terengganu, dan Kuala Lumpur. Namun, dalam kunjungannya itu, ia tidak dapat bicara banyak karena kesehatannya yang menurun.

Rahmah meninggal mendadak dalam usia 68 tahun dalam keadaan berwudu hendak salat Magrib pada 26 Februari 1969. Jenazahnya dimakamkan di pekuburan keluarga yang terletak di samping rumahnya. (*)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *