Menu

Mode Gelap
Kualitas Udara di Kota Padang Masuk Level Berbahaya, ISPU Tembus 334  Maulid Nabi di Lubuk Pandan: Di Balik Lamang dan Tabuik Ada Warisan Syekh Burhanuddin Polresta Padang Luncurkan Tim Patroli Perintis Presisi dan Samapta Kasus Yogi “Starlink” Sikakap, Bupati Mentawai : Dia Bantu Program Pemerintah Akibat Karhutla, Program MBG di Dharmasraya Terganggu di Tingkat TK dan PAUD Polres Dharmasraya Grebek 4 Pelaku Pesta Sabu, Salah Satunya Perempuan

Daerah

Akibat Bakar Sampah, Hutan di Harau Terbakar 1 Hektar

Hajrafiv Satya Nugrahabadge-check

Akibat Bakar Sampah, Hutan di Harau Terbakar 1 Hektar Perbesar

Covesia.co.id — Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) melanda kawasan perbukitan di Nagari Solok Bio-Bio, Kecamatan Harau, Kabupaten Lima Puluh Kota, Sumatera Barat, Kamis (13/8/2026) sore.

Api diduga berasal dari aktivitas pembakaran sampah atau semak oleh warga yang kemudian merembet ke lahan kering.

Kebakaran terjadi di kawasan Bukit Solok Bio-Bio. Kobaran api terlihat di bagian tebing perbukitan dan sempat mengkhawatirkan karena lokasinya berdekatan dengan permukiman serta sejumlah bangunan milik warga.

Berdasarkan informasi yang dihimpun Covesia.co.id, area yang terdampak kebakaran mencapai sekitar satu hektare. Petugas gabungan dikerahkan untuk mengendalikan api agar tidak meluas ke kawasan di sekitarnya.

Kepala Bidang Pemadam dan Penyelamatan Kabupaten Lima Puluh Kota, Budi Sanjaya mengatakan pihaknya menerima laporan kebakaran sekitar pukul 15.30 WIB. Setelah menerima laporan, petugas langsung menuju lokasi dengan mengerahkan personel dan sejumlah peralatan pemadam.

“Kobaran api itu pertama kali dilihat oleh warga sekitar yang kemudian menghubungi pos pemadam kebakaran terdekat,” ujar Budi kepada Covesia.co.id, Jumat (14/8/2026).

Sebanyak 20 personel dari Pemadam dan Penyelamatan Kabupaten Lima Puluh Kota, 12 personel BPBD, serta enam personel dari UPTD Kesatuan Pengelolaan Hutan Lindung Lima Puluh Kota dikerahkan dalam proses penanganan.

Petugas juga membawa dua unit mobil pemadam kebakaran, satu kendaraan BPBD, dan satu pompa pemadaman dari UPTD Kesatuan Pengelolaan Hutan Lindung Lima Puluh Kota. Medan perbukitan menjadi salah satu tantangan dalam proses pemadaman.

Budi mengatakan api harus segera dikendalikan karena lokasi kebakaran berada tidak jauh dari bangunan kandang ayam milik warga.

“Luas area lahan kosong yang terbakar diperkirakan di bawah satu hektare. Saat ini kami masih fokus memadamkan pergerakan api dengan penyiraman air agar tidak meluas dan merembet ke bangunan sekitar, terutama kandang ayam warga yang posisinya cukup dekat,” katanya.

Mengenai penyebab kebakaran, petugas menduga api berasal dari aktivitas warga yang melakukan pembakaran saat membersihkan atau membuka lahan. Api kemudian diduga merambat melalui semak dan material kering di kawasan perbukitan.

“Dugaan sementara, api berasal dari aktivitas masyarakat yang membuka lahan pertanian di area perbukitan,” ujar Budi.

Sementara itu, Kepala Dinas Kehutanan Provinsi Sumatera Barat Ferdinal Asmin membenarkan terjadinya kebakaran di kawasan Bukit Solok Bio-Bio. Ia mengatakan tim gabungan langsung diterjunkan untuk melakukan pemadaman.

“Sekarang Brigade sudah bersama BPBD dan Damkar Kabupaten Limapuluh Kota sudah berada di lokasi untuk proses pemadaman,” kata Ferdinal.

Kebakaran di Harau terjadi ketika kondisi cuaca di sejumlah wilayah Sumatera Barat relatif kering. Stasiun Meteorologi Kelas II Minangkabau mencatat curah hujan di Sumbar dalam beberapa hari terakhir sangat minim.

Koordinator Data dan Informasi Stasiun Meteorologi Kelas II Minangkabau, Yudha Nugraha, mengatakan kondisi tersebut membuat material kering di permukaan lebih mudah terangkat dan meningkatkan risiko kebakaran.

“Berdasarkan data kami, selama tiga hari terakhir hujan di wilayah Sumatera Barat cenderung sangat minim. Kondisi ini membuat partikel-partikel kering di permukaan lebih mudah terangkat ke atmosfer,” jelas Yudha.

Menurut Yudha, kondisi udara kabur yang terjadi di sejumlah wilayah Sumbar juga dipengaruhi partikel kering di atmosfer yang dapat berasal dari pembakaran maupun polusi.

“Kekaburan udara saat ini disebabkan oleh partikel-partikel udara kering. Penyebabnya bisa dari pembakaran, polusi, dan sebagainya,” katanya.

Karena itu, BMKG mengingatkan masyarakat untuk tidak melakukan pembakaran terbuka, termasuk membakar sampah maupun lahan, terutama ketika kondisi cuaca kering.

“Masyarakat diimbau mengurangi kegiatan di luar ruangan, menggunakan masker jika beraktivitas di luar, serta tidak melakukan kegiatan pembakaran sampah atau lahan, sambil tetap mewaspadai perubahan kondisi cuaca yang signifikan,” ujar Yudha.

Peristiwa di Harau kembali menunjukkan bahwa aktivitas pembakaran sederhana dapat berkembang menjadi kebakaran lahan ketika dilakukan di tengah kondisi kering. Api yang semula digunakan untuk membakar sampah atau membersihkan semak dapat dengan cepat merambat melalui dedaunan dan tumbuhan kering, terlebih ketika berada di kawasan perbukitan.

Kawasan Harau sendiri bukan kali pertama menghadapi kebakaran lahan. Pada Juni 2026, kebakaran juga terjadi di kawasan perbukitan belakang Pesantren ICBS, Jorong Ketinggian, Nagari Sarilamak, Kecamatan Harau.

Saat itu, Wali Nagari Sarilamak Olly Wijaya menyebut kebakaran bermula dari aktivitas membakar sampah yang kemudian membesar akibat kondisi panas dan kering.

Rangkaian kejadian tersebut menjadi peringatan bagi masyarakat agar tidak sembarangan membakar sampah atau semak, khususnya di sekitar kawasan hutan, perbukitan, lahan kosong, dan permukiman.

Petugas masih melakukan pemantauan terhadap lokasi kebakaran untuk memastikan tidak ada titik api yang kembali membesar. Pencegahan menjadi penting karena kondisi cuaca kering dapat membuat api kembali muncul dari bara yang belum sepenuhnya padam. (*)

Facebook Comments Box

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Belum ada komentar disini
Jadilah yang pertama berkomentar disini
Kabar lainnya

SMAN 3 Painan Bawa Nama Pesisir Selatan ke LCC Tingkat Nasional di Gedung DPR RI

27 Agustus 2026 - 14:38 WIB

Wacana Jam Malam Perempuan di Payakumbuh, Bisa Berdampak pada Gaya Hidup?

16 Agustus 2026 - 11:05 WIB

Jelang HUT RI, Hujan Diprediksi Guyur Sejumlah Wilayah Sumbar

15 Agustus 2026 - 12:39 WIB

Polda Sumbar Tuntaskan 12 Jembatan Pascabencana, Akses Warga di Padang Pariaman Pulih

13 Agustus 2026 - 16:37 WIB

Progres Huntap di 2 Lokasi Capai 50 Persen, Pemko Padang Targetkan September 2026 Selesai

12 Agustus 2026 - 15:49 WIB

Trending Topik Daerah