Menu ✖

Mode Gelap
Pelabuhan Teluk Tapang Disiapkan Jadi Pusat Industri dan Energi Nasional Polres Pariaman Tangkap Pria 56 Tahun Terkait Dugaan Pencemaran Nama Baik Kebakaran Dini Hari Hanguskan Studio Foto di Padang Sambut HUT ke-81 Brimob, Polda Sumbar Bersihkan Pantai Purus Padang Harga Batu Bara November 2026 Turun, Kalori Menengah dan Rendah Naik SMKN 1 Sasak Direlokasi, Rp3 Miliar Digelontorkan untuk Atasi Ancaman Banjir

News

Era Baru Hukum Pidana Indonesia: KUHP dan KUHAP Terbaru Resmi Berlaku Mulai Hari Ini

Redaksi Covesiabadge-check

Era Baru Hukum Pidana Indonesia: KUHP dan KUHAP Terbaru Resmi Berlaku Mulai Hari Ini Perbesar

Covesia.co.id – Sejarah baru dalam sistem peradilan pidana Indonesia dimulai hari ini, Jumat (2/1/2026). Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (KUHP) dan Kitab Undang-Undang Hukum Acara Pidana (KUHAP) versi terbaru secara resmi mulai diberlakukan secara serentak di seluruh wilayah Indonesia.

Penerapan ini menandai berakhirnya masa transisi panjang serta penggunaan produk hukum peninggalan era kolonial yang selama ini menjadi landasan hukum pidana nasional.

Perjalanan Legislasi KUHP (UU No. 1 Tahun 2023)

KUHP terbaru, yang kini tercatat sebagai UU Nomor 1 Tahun 2023, telah menempuh perjalanan panjang sejak disahkan oleh DPR RI pada 6 Desember 2022. Undang-undang ini kemudian diteken oleh Presiden ke-7 RI, Joko Widodo, pada 2 Januari 2023.

Sesuai dengan amanat Pasal 624, undang-undang tersebut menetapkan masa transisi selama tiga tahun sebelum akhirnya dinyatakan berlaku efektif pada hari ini, tepat tiga tahun sejak tanggal diundangkan.

Melengkapi perubahan materil dalam KUHP, pemerintah dan DPR juga telah merampungkan aturan formil melalui KUHAP terbaru yang disahkan pada Rapat Paripurna DPR RI, 18 November 2025 lalu.

KUHAP ini resmi menjadi UU Nomor 20 Tahun 2025 setelah ditandatangani oleh Presiden Prabowo Subianto pada 17 Desember 2025. Ketua DPR RI Puan Maharani sebelumnya menegaskan bahwa pemberlakuan KUHAP diselaraskan dengan momentum berlakunya KUHP agar tidak terjadi kekosongan hukum dalam proses penegakan pidana.

Meskipun telah resmi berlaku, kehadiran dua kitab hukum ini tidak lepas dari perhatian publik. Berbagai kritik dan kekhawatiran dari aktivis HAM serta akademisi hukum telah mewarnai proses penyusunannya, terutama terkait sejumlah pasal yang dinilai kontroversial dan potensi tumpang tindih dalam implementasi lapangan.

Pemerintah dan aparat penegak hukum kini menghadapi tantangan besar untuk membuktikan bahwa reformasi hukum ini mampu memberikan keadilan yang lebih modern dan sesuai dengan nilai-nilai keindonesiaan. (*)

Facebook Comments Box

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Belum ada komentar disini
Jadilah yang pertama berkomentar disini
Kabar lainnya

Pelabuhan Teluk Tapang Disiapkan Jadi Pusat Industri dan Energi Nasional

6 November 2026 - 16:45 WIB

Polres Pariaman Tangkap Pria 56 Tahun Terkait Dugaan Pencemaran Nama Baik

6 November 2026 - 15:43 WIB

Kebakaran Dini Hari Hanguskan Studio Foto di Padang

6 November 2026 - 15:06 WIB

Sambut HUT ke-81 Brimob, Polda Sumbar Bersihkan Pantai Purus Padang

6 November 2026 - 11:33 WIB

Harga Batu Bara November 2026 Turun, Kalori Menengah dan Rendah Naik

6 November 2026 - 11:26 WIB

Trending Topik Ekonomi dan Bisnis