Covesia.co.id – Pertumbuhan ekonomi Kabupaten Padang Pariaman berada di posisi paling bawah dibandingkan kabupaten dan kota lainnya di Sumatera Barat.
Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), pertumbuhan ekonomi daerah itu pada 2025 hanya mencapai 1,78 persen, jauh di bawah rata-rata pertumbuhan ekonomi Sumatera Barat sebesar 3,37 persen.
Kondisi tersebut turut diakui Bupati Padang Pariaman, John Kenedy Azis. Ia secara terbuka menyampaikan bahwa daerah yang dipimpinnya masih menghadapi persoalan dalam mendorong pertumbuhan ekonomi.
“Memang di Kabupaten Padang Pariaman, pertumbuhan ekonomi kami masih paling bawah di Sumbar. Namun, kami terus berupaya melakukan berbagai langkah untuk meningkatkan pertumbuhan ekonomi ini,” kata John Kenedy Azis saat menghadiri Asistensi Pertumbuhan Ekonomi Sumatera Barat di Auditorium Gubernur Sumatera Barat, Padang, Senin (2/11/2026).
Berdasarkan tabel statistik BPS Kabupaten Padang Pariaman, laju pertumbuhan Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) atas dasar harga konstan pada 2025 tercatat sebesar 1,78 persen. Angka tersebut merupakan angka sementara yang dirilis BPS pada Maret 2026.
Capaian itu menunjukkan perlambatan cukup tajam dibandingkan tahun sebelumnya. Pada 2024, ekonomi Padang Pariaman masih tumbuh sebesar 4,57 persen. Artinya, laju pertumbuhan ekonomi daerah tersebut merosot 2,79 poin persentase dalam setahun.
Sebagai pembanding, perekonomian Sumatera Barat secara keseluruhan pada 2025 tumbuh sebesar 3,37 persen. Angka itu juga melambat dibandingkan pertumbuhan pada 2024 yang mencapai 4,37 persen.
Pertumbuhan ekonomi Padang Pariaman hanya sekitar separuh dari capaian provinsi. Selisihnya mencapai 1,59 poin persentase.
Konsumsi dan Investasi Ikut Tertekan
Data BPS berdasarkan komponen pengeluaran memperlihatkan sejumlah sektor yang menjadi perhatian dalam perlambatan ekonomi Padang Pariaman.
Konsumsi akhir rumah tangga pada 2025 hanya tumbuh 1,55 persen. Angka tersebut menunjukkan perlambatan dibandingkan pertumbuhan pada triwulan I yang masih mencapai 4,26 persen.
Konsumsi akhir pemerintah bahkan mengalami kontraksi sebesar 1,33 persen.
Sementara itu, pembentukan modal tetap bruto (PMTB), yang menggambarkan investasi dalam bentuk pembentukan aset tetap seperti bangunan, mesin, dan peralatan, mengalami kontraksi lebih dalam, yakni 10,89 persen.
Angka tersebut menjadi salah satu indikator penting yang perlu dicermati karena investasi berperan dalam mendorong kapasitas produksi, aktivitas usaha, dan penciptaan lapangan kerja.
Dari sisi perkembangan triwulanan, pertumbuhan ekonomi Padang Pariaman secara kumulatif tercatat terus melambat.
Pada triwulan I 2025 pertumbuhannya mencapai 3,46 persen, kemudian turun menjadi 2,93 persen pada triwulan II, 2,78 persen pada triwulan III, hingga akhirnya berada di angka 1,78 persen pada triwulan IV. (*)










