Menu ✖

Mode Gelap
Pertumbuhan Ekonomi Padang Pariaman Terendah di Sumbar, Hanya 1,78 Persen Harga Cabai Merah Melonjak 40 Persen, Inflasi Sumbar Naik Jadi 3,97 Persen Sisir Lokasi Dugaan Aktivitas PETI di TNKS Pessel, Tim Gabungan Musnahkan 10 Pondok Basement Blok II Pasar Raya Padang Ada WiFi Gratis, Pedagang Bisa Jualan Online KAI Divre II Sumbar Gandeng Kejari Agam Amankan Aset Perusahaan Cuaca Sumbar Hari Ini, BMKG Ingatkan Potensi Hujan Lebat

News

Harga Cabai Merah Melonjak 40 Persen, Inflasi Sumbar Naik Jadi 3,97 Persen

Hajrafiv Satya Nugrahabadge-check

Harga Cabai Merah Melonjak 40 Persen, Inflasi Sumbar Naik Jadi 3,97 Persen Perbesar

Covesia.co.id – Lonjakan harga cabai merah menjadi pemicu utama meningkatnya inflasi Sumatera Barat pada Oktober 2026.

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), inflasi tahunan Sumbar mencapai 3,97 persen, naik dibandingkan September 2026 yang tercatat sebesar 3,50 persen.

Kenaikan harga cabai merah tercatat mencapai 40,06 persen secara bulanan. Komoditas tersebut memberikan andil sebesar 0,92 persen terhadap inflasi Sumatera Barat pada Oktober 2026.

Kepala Perwakilan Bank Indonesia (BI) Provinsi Sumatera Barat, Mohamad Abdul Majid Ikram mengatakan kenaikan harga aneka cabai dipengaruhi tingginya permintaan dari luar daerah, sementara pasokan nasional mengalami penurunan.

“Peningkatan inflasi bulanan terutama didorong oleh lonjakan harga aneka cabai di seluruh wilayah sampel IHK, yang dipengaruhi oleh tingginya permintaan dari luar daerah di tengah berkurangnya pasokan nasional akibat dampak El Niño serta cuaca yang tidak menentu,” ujar Majid, Selasa (3/11/2026).

Selain faktor pasokan nasional, kondisi cuaca di sejumlah sentra produksi cabai Sumatera Barat juga ikut memengaruhi ketersediaan komoditas tersebut.

Curah hujan tinggi dan cuaca yang tidak menentu menghambat produktivitas petani, sehingga hasil panen mengalami penurunan bahkan terjadi gagal panen di sejumlah lahan.

Berdasarkan data BI, kenaikan harga cabai merah terjadi di seluruh daerah yang menjadi sampel penghitungan Indeks Harga Konsumen (IHK) di Sumatera Barat.

Kota Padang mencatat kenaikan harga cabai merah tertinggi sebesar 44,56 persen, sedangkan Kabupaten Pasaman Barat mencatat andil inflasi terbesar dari komoditas tersebut, yakni 1,63 persen.

Tekanan inflasi juga berasal dari kenaikan harga cabai rawit, cabai hijau, ikan cakalang atau sisik, serta biaya pendidikan, khususnya akademi dan perguruan tinggi.

Kepala BPS Provinsi Sumatera Barat, Nurul Hasanudin, sebelumnya menyampaikan bahwa kelompok makanan, minuman, dan tembakau menjadi penyumbang utama inflasi bulanan di Sumbar.

“Secara year on year, seluruh kelompok pengeluaran mengalami inflasi, di mana kelompok makanan, minuman dan tembakau memberikan andil terbesar terhadap inflasi umum, yaitu sebesar 2,05 persen,” katanya.

Secara bulanan atau month to month (mtm), inflasi Sumatera Barat pada Oktober 2026 tercatat sebesar 0,86 persen. Angka tersebut lebih tinggi dibandingkan September 2026 yang berada di level 0,60 persen.

Sementara itu, inflasi secara kumulatif sejak Januari hingga Oktober 2026 mencapai 2,70 persen.

Jika dilihat berdasarkan wilayah, Kabupaten Pasaman Barat mencatat inflasi bulanan tertinggi sebesar 1,42 persen. Berikutnya Kota Padang sebesar 0,78 persen, Kabupaten Dharmasraya 0,59 persen, dan Kota Bukittinggi 0,55 persen.

Untuk inflasi tahunan, Kabupaten Dharmasraya berada di posisi tertinggi dengan angka 5,25 persen. Disusul Kabupaten Pasaman Barat sebesar 4,61 persen, Kota Bukittinggi 3,83 persen, dan Kota Padang 3,60 persen.

Di tengah kenaikan harga sejumlah komoditas pangan tersebut, beberapa komoditas justru memberikan andil penahan inflasi. Di antaranya daging ayam ras, bawang merah, angkutan udara, ikan serai, dan kentang.

BI dan TPID Perkuat Pengendalian Harga

Menghadapi tekanan inflasi pangan, Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) bersama Bank Indonesia memperkuat langkah stabilisasi harga dan pasokan melalui sejumlah program.

Upaya tersebut dilakukan melalui Gerakan Pangan Murah (GPM), operasi pasar, optimalisasi Kerja Sama Antar Daerah (KAD), penguatan neraca pangan, serta fasilitasi kerja sama antara kelompok tani, pembeli hasil pertanian, dan mitra logistik.

BI juga memperkuat koordinasi dengan daerah sentra produksi cabai untuk memastikan ketersediaan pasokan, terutama menjelang peningkatan kebutuhan masyarakat pada periode Natal dan Tahun Baru.

Meski demikian, tekanan inflasi diperkirakan mulai mereda pada November 2026 seiring membaiknya pasokan cabai.

Sejumlah daerah, seperti Solok, Tanah Datar, Dharmasraya, dan Pasaman Barat, mulai memasuki masa panen. Pasokan dari luar daerah, termasuk Sumatera Utara, juga diharapkan membantu memenuhi kebutuhan pasar.

Majid memperkirakan inflasi Sumatera Barat hingga akhir 2026 masih dapat dijaga dalam sasaran nasional.

“Hingga akhir tahun 2026 inflasi Sumatera Barat diperkirakan tetap terjaga dalam rentang sasaran inflasi nasional sebesar 2,5%±1%, didukung oleh membaiknya pasokan pangan dan berlanjutnya sinergi pengendalian inflasi TPID,” tutupnya. (*)

Facebook Comments Box

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Belum ada komentar disini
Jadilah yang pertama berkomentar disini
Kabar lainnya

Pertumbuhan Ekonomi Padang Pariaman Terendah di Sumbar, Hanya 1,78 Persen

4 November 2026 - 13:19 WIB

Sisir Lokasi Dugaan Aktivitas PETI di TNKS Pessel, Tim Gabungan Musnahkan 10 Pondok

4 November 2026 - 08:54 WIB

Basement Blok II Pasar Raya Padang Ada WiFi Gratis, Pedagang Bisa Jualan Online

4 November 2026 - 08:43 WIB

KAI Divre II Sumbar Gandeng Kejari Agam Amankan Aset Perusahaan

4 November 2026 - 08:40 WIB

Cuaca Sumbar Hari Ini, BMKG Ingatkan Potensi Hujan Lebat

4 November 2026 - 08:13 WIB

Trending Topik News