Menu

Mode Gelap
Dua Kecelakaan Maut Dalam Sehari di Pasaman Barat, Dua Warga Tewas Gunung Sinabung Kembali Meletus Setelah Lima Tahun Tertidur, Status Siaga Selama September 2026, Sumbar Didominasi Cuaca Kering Kualitas Udara di Kota Padang Masuk Level Berbahaya, ISPU Tembus 334  Maulid Nabi di Lubuk Pandan: Di Balik Lamang dan Tabuik Ada Warisan Syekh Burhanuddin Polresta Padang Luncurkan Tim Patroli Perintis Presisi dan Samapta

News

Gunung Sinabung Kembali Meletus Setelah Lima Tahun Tertidur, Status Siaga

Hajrafiv Satya Nugrahabadge-check

Gunung Sinabung Kembali Meletus Setelah Lima Tahun Tertidur, Status Siaga Perbesar

Covesia.co.id  — Gunung Sinabung di Kabupaten Karo, Sumatera Utara, kembali meletus setelah lebih dari lima tahun tertidur.

Terbaru, erupsi terjadi pada Senin (31/8/2026) pukul 10.17 WIB dengan kolom abu mencapai sekitar 3.500 meter di atas puncak.

Erupsi ini menjadi penanda kembali meningkatnya aktivitas Sinabung setelah periode panjang yang relatif mereda. Badan Geologi kemudian menaikkan status Gunung Sinabung dari Level II Waspada menjadi Level III Siaga mulai pukul 12.30 WIB.

Kolom abu hasil erupsi teramati berwarna hitam dengan intensitas tebal dan bergerak ke arah timur hingga tenggara. Erupsi terekam pada seismogram dengan amplitudo maksimum 120 milimeter.

Kepala Pos Pengamatan Gunungapi Sinabung, Armen Putra, mengatakan aktivitas abu masih terlihat setelah erupsi terjadi.

“Erupsi berupa abu yang mengarah ke timur dan tenggara. Sampai saat ini masih kami pantau, dan pada pukul 11.14 WIB masih terlihat abu keluar di sekitar puncak Gunungapi Sinabung,” ujar Armen.

Sebelum letusan terjadi, aktivitas kegempaan Sinabung juga meningkat. Badan Geologi mencatat 85 kali gempa vulkanik, satu kali gempa hembusan dan satu kali tremor harmonik menjelang erupsi.

Badan Geologi menyebut erupsi 31 Agustus 2026 merupakan erupsi awal dan masih terbuka kemungkinan terjadi erupsi yang lebih besar.

Kembali aktifnya Sinabung tidak terjadi secara tiba-tiba. Pada 12 Agustus 2026, Badan Geologi sudah melaporkan adanya peningkatan aktivitas vulkanik.

Saat itu terdeteksi peningkatan gempa vulkanik dalam dan gempa hembusan. Gempa low frequency dan hybrid yang sebelumnya jarang terekam juga mulai muncul.

Asap kawah juga semakin menebal dengan warna putih hingga keabu-abuan dan mencapai ketinggian sekitar 1.000 meter dari puncak.

Badan Geologi ketika itu telah mengingatkan adanya potensi erupsi freatik maupun magmatik.

Sejarah Letusan Sinabung

Sinabung sendiri memiliki sejarah panjang aktivitas erupsi. Setelah lama tidak aktif, gunung ini kembali meletus pada 2010.

Aktivitas kemudian kembali meningkat pada 2013 dan berlangsung dalam rangkaian erupsi hingga beberapa tahun berikutnya.

Periode 2013-2018 menjadi salah satu fase paling aktif Sinabung. Erupsi besar pada 2014 bahkan menyebabkan korban jiwa dan membuat puluhan ribu warga harus mengungsi.

Aktivitas erupsi masih berlanjut hingga 2021. Data pemantauan Badan Geologi mencatat Sinabung kembali mengalami erupsi pada Mei, Juli dan periode lainnya pada tahun tersebut. Salah satu erupsi tercatat pada 28 Juli 2021 dengan lontaran abu vulkanik mencapai sekitar 4.500 meter.

Setelah rangkaian aktivitas tersebut, Sinabung memasuki periode yang jauh lebih tenang. Statusnya tetap berada pada Level II Waspada sejak 17 Mei 2023, tetapi tidak terjadi rangkaian erupsi seperti pada periode sebelumnya.

Memasuki 2026, tanda-tanda peningkatan kembali muncul. Pada Mei, Badan Geologi telah mengingatkan adanya peningkatan kegempaan. Pada Agustus, peningkatan aktivitas kembali terdeteksi dan akhirnya berujung pada erupsi 31 Agustus.

Sinabung di Level Siaga

Badan Geologi melarang masyarakat dan wisatawan melakukan aktivitas di desa-desa yang telah direlokasi serta dalam radius tiga kilometer dari puncak. Untuk sektor selatan-tenggara, zona larangan diperluas hingga radius enam kilometer.

Masyarakat yang tinggal di sekitar sungai yang berhulu di Sinabung juga diminta mewaspadai ancaman lahar dingin.

Erupsi kali ini menjadi pengingat bahwa setelah aktivitas gunung api mereda dalam waktu lama, potensi erupsi tetap ada. (*)

Facebook Comments Box

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Belum ada komentar disini
Jadilah yang pertama berkomentar disini
Kabar lainnya

Dua Kecelakaan Maut Dalam Sehari di Pasaman Barat, Dua Warga Tewas

31 Agustus 2026 - 17:18 WIB

Selama September 2026, Sumbar Didominasi Cuaca Kering

31 Agustus 2026 - 16:40 WIB

Kualitas Udara di Kota Padang Masuk Level Berbahaya, ISPU Tembus 334 

31 Agustus 2026 - 16:28 WIB

Polresta Padang Luncurkan Tim Patroli Perintis Presisi dan Samapta

31 Agustus 2026 - 10:07 WIB

Kasus Yogi “Starlink” Sikakap, Bupati Mentawai : Dia Bantu Program Pemerintah

30 Agustus 2026 - 12:07 WIB

Trending Topik News