Produksi Harian Tembus 93 Ribu Ton, Sampah Menjadi Ancaman Bagi Lingkungan dan Kesehatan Masyarakat Indonesia

Covesia.co.id – Isu sampah di Indonesia kini telah mencapai pada tingkat yang sangat memperihatinkan dan dapat mengancam kerusakan lingkungan dan kesehatan masyarakat. Berdasarkan data dari Sistem Informasi Pengelolaan Sampah Nasional (SIPSN) Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) menunjukkan bahwa timbulan sampah nasional pada tahun 2024 diprediksi mencapai angka yang mengejutkan, yakni sekitar 33,79 juta ton setiap tahunnya.

Dari data tersebut, jika dihitung secara harian, Indonesia menghasilkan sekitar 93.861 ton sampah setiap harinya. Angka ini bukan tidak mungkin akan terus mengalami peningkatan sesuai dengan pola kesadaran tentang bahaya dampak sampah dan perkembangan gaya hidup mayarakat dan pelaku usaha.

Angka fantastis ini tentunya menjadi lampu kuning bagi pengelolaan lingkungan di Tanah Air, terutama karena dominasi jenis sampah yang sulit terurai dan rentan mencemari lingkungan.

Berdasarkan data SIPSN KLHK, sumber terbesar timbulan sampah berasal dari rumah tangga (50,8%) dan diikuti oleh pasar tradisional/modern (16,67%).Sementara itu, komposisi jenis sampah menunjukkan dua kategori mendominasi, yaitu dari sisa makanan sebesar 39,36 persen, dan sampah plastik sebesar 19,64%. Dari total produksi sampah harian 93.861 ton, sampah plastik sendiri berkontribusi sebesar 15.017 ton per hari.

Jumlah yang masif ini berpotensi besar merusak ekosistem air dan tanah bilamana tidak disikapi dengan kebijakan dan tindakan serius.

Dampak Krusial di Perairan: Kontaminasi Biota hingga Rantai Makanan Manusia

Sampah plastik yang tak terkelola dengan baik merupakan kontributor utama pencemaran air, baik di sungai maupun laut. Indonesia sendiri masih memegang predikat sebagai negara penghasil sampah plastik ke laut terbesar kedua di dunia.

Peneliti Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) memprediksi sekitar 350.000 ton sampah plastik berpotensi masuk ke laut Indonesia sepanjang tahun 2024 sementara berdasarkan laporan Bank Dunia (2021) menyebutkan, diperkirakan 83% dari sampah plastik tahunan yang bocor dari darat ke laut dibawa dan dibuang melalui sungai-sungai. Angka ini mengindikasikan bahwa masalah sampah di darat adalah akar utama pencemaran maritim.

Dampak dari pencemaran ini sangat luas, mulai dari kerusakan habitat hingga kontaminasi rantai makanan. Dinukil dari berbegai sumber disebutkan bahwa sampah plastik menjadi jerat yang mematikan bagi penyu, ikan, dan burung laut.

Sampah plastik diketahui mengandung bahan kimia aditif berbahaya (seperti BPA atau pthalates). Bahan kimia ini dapat larut dalam air, mencemari sumber air, dan terlepas ke dalam tubuh organisme laut, memicu gangguan kesehatan serius.

Degradasi plastik menghasilkan partikel yang sangat kecil yang disebut mikroplastik. Mikroplastik ini ditelan oleh organisme terkecil hingga ikan, terakumulasi dalam tubuh mereka, dan akhirnya masuk ke rantai makanan manusia melalui konsumsi makanan laut.

Kondisi ini berisiko memicu gangguan sistem saraf hingga potensi peradangan kronis pada kesehatan masyarakat.(*)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *