Krisis Ekologis Sampah: Ancaman Lintas Media terhadap Tanah, Air, dan Udara di Indonesia

Covesia.co.id – Indonesia, dengan estimasi 56,63 juta ton sampah per tahun (2023), sedang menghadapi krisis ekologis serius. Ironisnya, dari jumlah masif tersebut, hanya sekitar 39% yang dikelola dengan baik. Sisa yang tidak terkelola menjadi bom waktu yang mencemari lingkungan secara lintas media seperti tanah, air, dan udara.

Akar masalah ini seringkali bermula di Tempat Pemrosesan Akhir (TPA). Pemerintah Indonesia mencatat masih ada 343 lokasi TPA yang menerapkan praktik open dumping—pembuangan terbuka tanpa pengelolaan memadai.

Praktik open dumping yang kuno ini terbukti menjadi sumber kontaminasi ke berbagai media. 12,37 juta ton sampah dibuang ke TPA open dumping pada tahun 2023. Penumpukan sampah tanpa kontrol menghasilkan air lindi (leachate) yang sangat beracun.

Limbah cair ini merembes ke dalam tanah, mencemari air tanah dan mengalir ke drainase hingga sungai. Kementerian Lingkungan Hidup (KLH) menyebut bahwa leachate yang tidak terkendali ini “mengancam pasokan air bersih bagi masyarakat sekitar.

Sampah tidak hanya diam di darat, tetapi juga melepaskan polutan berbahaya ke atmosfer melalui dua jalur utama yakni, pembakaran ilegal dan dioksin.

Pembakaran sampah secara ilegal, terutama plastik, melepaskan gas berbahaya. Dioksin adalah senyawa karsinogenik yang terakumulasi dalam rantai makanan.

Disamping itu juga diketahui bahwa, penumpukan sampah organik di TPA tanpa pengelolaan yang benar menghasilkan pembusukan yang melepaskan gas metana. Metana adalah gas rumah kaca yang sangat kuat, berkontribusi signifikan terhadap pemanasan global. Praktik open dumping secara langsung diidentifikasi sebagai sumber utama emisi gas rumah kaca.

Dinukil dari berbagai sumber, diketahui bahwa di balik masalah sampah yang terlihat, terdapat ancaman yang lebih tersembunyi namun mematikan yang berasal dari plastik dan mikroplastik.

Plastik dikenal sangat sulit terurai dan terus mengakumulasi di lingkungan, menciptakan kondisi darurat sampah plastik di Indonesia. Ketika plastik terfragmentasi, ia menjadi mikroplastik yang dapat dengan mudah masuk ke dalam rantai makanan

Kajian menunjukkan bahwa tanah pertanian kini dapat mengandung sekitar 23 kali lebih banyak mikroplastik dibanding perairan laut. Dari sana, partikel ini dapat terserap oleh tanaman.

Berdasarkan studi yang dilakukan oleh para ilmuwan dari Cornell University dan dipublikasikan dalam jurnal Environmental Science & Technology menemukan bahwa masyarakat Indonesia mengonsumsi 15 gram mikroplastik per bulan melalui makanan dan minuman, angka ini merupakan yang tertinggi di dunia dalam survei tersebut. Konsumsi mikroplastik ini menimbulkan masalah kesehatan serius yang masih terus dipelajari.

Akhirnya, sampah, terutama plastik dan mikroplastik, yang bocor dari daratan mengalir ke laut, mengancam biota laut dan ekosistem perairan yang rapuh. Dampak lintas media ini meruntuhkan keberlanjutan lingkungan dan ekonomi perikanan Indonesia. (*)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *